Saturday, 17 November 2018

Pulsa Nyaris Colong Nyawa

Selasa, 11 Oktober 2011 — 22:43 WIB
nah-ini-dia8okt

Sementara orang ramai soal operator selular mencuri pulsa, di Surabaya justru gara-gara pulsa nyawa orang nyaris tercolong. Siapa pelakunya, tak lain Martadi, 31(bukan nama sebenarnya), warga Kalianyar. Gara-gara, konter HP yang dijaga istrinya malah jadi sarana selingkuh. Martadi pun kalap, istri, mertua dan adik ipar dicluritnya.
Orang cantik tak selalu membawa maslahat, justru banyak pula yang menimbulkan mudlarat. Terutama ini jika ketemu para lelaki penjahat kelamin. Wanita bersuami yang sudah tak bisa lagi diganggu-gugat, dicoba untuk bermain serong. Meski pihak wanita mau mau saja, belum tentu si suami ridla. Contohnya Martadi ini, Harini, 29 (bukan nama sebenarnya), istri bersama mertuanya nyaris wasalam, gara-gara dibabat clurit. Dia memang cemburu berat. Orang istri disuruh jualan pulsa HP, kok malah “jual diri”, selingkuh dengan seorang pelanggannya.
Istri Martadi memang cantik. Sayangnya, punya bini cantik dia tak punya anggaran perawatan. Jangankan untuk mempertahankan kecantikan bini, untuk memperhatankan perut untuk bisa makan ajeg saja, susahnya minta ampun. Maklum, Martadi hanya pekerja serabutan. Maka untuk menambah pemasukan, istrinya disuruh jualan pulsa di kios depan rumahnya. Lumayan, hasilnya bisa untuk mempertahankan stabilitas kendil di rumah.
Lagi-lagi cantiknya wanita selalu bikin masalah. Tahu penunggu konter HP berwajah cantik, pembeli tak hanya beli pulsa dan pergi, ada pula yang duduk berlama-lama lalu ngobrol dengan Ny. Harini istri Martadi. Salah satunya yang paling agresip adalah Mukidi, 30 (bukan nama sebenarnya). Tak hanya rajin ke konter, tapi juga rajin menelpon HP Harini siang dan malam. Lama-lama Martadi pun dengan suara telpon itu dan dia mulai curiga. Masalahnya jika terima telpon Mukidi dia terus ngomong bisik-bisik dan menjauh dari khalayak.
Pada Juli 2011 lalu kekesalan Martadi sampai pada puncaknya. Soalnya, setelah punya gebedan baru, Harini jadi menelantarkan suami dalam segala bidang. Biasanya “pasokan” malam rutin dijatah seminggu 3 kali, kini kadang-kadang hanya disuplai sekali saja. Itupun maunya kejar tayang, tak mau lama-lama. Tentu saja Martadi jadi marah, lalu keluarlah omelannya. “Kamu selingkuh ya, sama Mukidi itu kan? Ngaku saja…..!” tuduhnya.
Maling pun jikalau dituduh takkan ngaku, begitu pula Harini. Kini justru dia balik menuduh suaminya selingkuh. Jadi seperti DPR – KPK. Ketika dewan dituduh banyak yang nakal, gantian menuduh KPK yang tidak transparan, mentang-mentang jadi lembaga superbodi. Nggak tahu ini, yang mewakili sosok Fahri Hamzah si Harini apa si Martadi. Pokoknya pertikaian itu mencapai titik kulminasi.
Martadi dituduh selingkuh, akhirnya jadi kalap. Diapun ambil clurit, istrinya dibacok hingga roboh mandi darah. Sang mertua mencoba melerai, tapi justru kena clurit, begitun adik iparnya, dibabat sekalian. Gegerlah warga Kalianyar Surabaya, sore itu. Ketiganya dilarikan ke RSUD Dr. Sutomo, sementara Martadi buron dengan membawa seorang anaknya yang masih balita.
Awal Oktober kemarin tercium jejaknya ada di Rengel Tuban, maka polisi pun menggerebeknya. Dalam pemeriksaan Martadi mengakui segala kejahatannya. Dia sebenarnya mau kabur ke Banjarmasin, tapi duitnya hilang, sehingga terpaksa jadi kuli pelahuban. Saat ada sopir truk memberi tumpangan ke Jakarta, dia ikut. Tapi di Tuban ternyata ditinggal saat buang air besar. Disitulah petualangannya berakhir, gara-gara suka meneror istrinya lewat HP.
Mau niru Nazarudin pula rupanya. (HS/Gunarso TS)