Wednesday, 26 September 2018

Arti Kata ‘BISA’

Kamis, 12 Januari 2012 — 16:59 WIB

Oleh :  Harmoko

Akhir-akhir ini banyak orang termasuk elit politik mengucap dan berkata tentang BISA, dikaitkan terhadap kerja dan kinerjanya. Lebih lagi jika kata BISA dikaitkan dengan citra bidang politik, maka akan memiliki konotasi dan interprestasi berbeda-beda. Untuk itu penulis dalam suatu diskusi di suatu daerah, diminta penjelasan mengenai arti kata BISA.

Penulis tentu langsung bertanya pada hadirin yang tidak banyak, dan yang kebetulan, diskusi itu berada tidak jauh dari ruang perpustakaan.

”Coba ambilkan buku Kamus Umum Bahasa Indonesia.” Salah seorang panitia mengambil Buku yang dimaksud. Buku tersebut dikeluarkan dan diterbitkan oleh Balai Pustaka setelah diolah kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Buku Kamus tersebut merupakan susunan WJS Poerwadarminta. Penulis menilai bahwa Buku Kamus memiliki makna yang syah. Karena dicetak sejak tahun 1953 hinga cetakan ke enam belas tahun 1999.

Dengan jelas dalam buku kamus tersebut pengertian BISA ada dua macam atau jenis pengertian.

BISA-I: zat racun yang dapat menyebabkan luka, busuk atau mati pada suatu yang hidup (biasanya terdapat pada binatang).

BISA-II: Dapat; Boleh; Mungkin. Misalnya: ”Ia BISA membaca tetapi tidak BISA menulis. BISA jadi = boleh jadi (mungkin); Tidak BISA Jadi = mustahil; Mana BISA = mana boleh; SEBISANYA – sedapat-dapatnya; KEBISAAN = kecakapan, kepandaian.

Begitu selesai penulis kemukakan maka para peserta diskusi tenang dan manggut-manggut. Artinya mereka dapat memahami arti yang tertulis dalam Kamus Bahasa Indonesia tersebut.

Salah satu peserta mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuk: ”Kalau demikian Pak, pengertian dan makna BISA, tergantung pada kata gandengannya serta tergantung pada yang mengucapkan, ya Pak??”

Begitulah kira-kira. Penulis kemudian menambahkan: ”Dan Tergantung pada kondisi dan situasi-nya.”

Bahasa Indonesia memang banyak ragam maknanya, tergantung pada padanannya. Misalnya dalam menggunakan kata BISA: ”Hati-hatilah terhadap dia, sebab orang itu omongannya serba BISA.” Nah untuk kalimat ini tentu ada dua makna. Apakah orang yang dimaksud adalah betul-betul bisa dan mampu serta dapat diandalkan. Atau mungkin orang yang dimaksud, omongannya mengandung racun.”

Para peserta diskusi memahami atau tidak memahami atas penjelasan yang penulis kemukakan, meskipun mereka manggut-manggut juga.

Sejak zaman Orla, Orba maupun Reformasi penggunaan kata-kata dalam bahasa Indonesia ada yang sering ”dihaluskan,” contoh: harga bahan pokok naik, hingga sekarang yang dipakai adalah harga ”disesuaikan.”

Atau ada istilah ”dimusnahkan” diperhalus di ”sukabumikan” Sebaiknya kita semua menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baik.