Monday, 24 September 2018

Birunya Kolam Renang

Kamis, 12 Januari 2012 — 17:14 WIB

 Oleh Rahardi Ramelan

Jakarta dan sekitarnya sudah dipenuhi dengan “water boom”, tempat bermain dengan bermacam-macam jenis kolam. Tentu karcis masuknya tidak terjangkau oleh masyarakat ekonomi rakyat. Aduuuuh mahalnya ngga karuan. Lebih baik uangnya untuk makan keluarga satu minggu.  Demikian juga tumbuhnya kolam-kolam renang di lingkungan perumahan mewah, yang hanya boleh dimanfaatkan oleh penghuni. Rumah-rumah super mewah di Pondok Indah, Bintaro, Putri Hijau, Pluit dan tempat lainnya, dilengkapi dengan kolam renang.

Air kolam-kolam renang tersebut warnanya biru muda sangat menyejukkan, lain dengan warna hijau tua atau coklat kali Ciliwung yang juga masih dipakai mandi dan berenang. Ataupun genangan air karena banjir yang dimanfaatkan oleh anak-anak berenang dengan suka citanya.

Kolam renang yang biru menyejukkan memerlukan perawatan setiap hari, untuk itu ada perusahaan yang menjual jasa perawatan kolam renang, baik untuk kolam di hotel ataupun rumah. Biayanya pun tidak murah, dan hampir setiap tahun biayanya naik. Demikianlah yang terjadi pada tahun 1996-1997, tiba-tiba harganya melambung. Saat itu muncul gagasan beberapa anak muda yang sudah biasa mengerjakan kolam renang, untuk tidak tergabung dalam perusahaan, melainkan melaksanakan sendiri. Privat begitu.

Demikian juga dengan Udin, bukan nama sebenarnya, pada tahun 1996 mulai menawarkan jasa perawatan kolam renang, dengan harga yang sama tanpa menaikkan biaya. Ia mulai dengan beberapa rumah di Bintaro yang selama ini menjadi bagian dari tugasnya. Hampir semua pemilik kolam renang di Bintaro menyetujui usulannya itu. Pengalaman, pengetahuan dan ketrampilannya merawat kolam renang, telah mendapat apresiasi para pemilik. Dari mulut kemulut kabarpun beredar. Berkat telepon selular dan hp yang dimilikinya, langganannyapun bertambah banyak. Setiap rumah dikunjunginya 2 kali dalam seminggu. Langganannya sekarang mencapai 15 rumah. Setiap hari 5 – 6 rumah harus ia kerjakan. Bermodal hubungan dengan para penjual obat dan peralatan kolam renang, serta memanfaatkan sepeda motor yang dimilikinya, iapun mulai jam 6 pagi sudah meninggalkan rumahnya di Setu.

“Tanggungan saya banyak, pak”, ia memulai ceritanya. “Ibu saya dirumah, beberapa keponakan dititipkan juga di rumah. Kasihan orang tuanya sedang menganggur”, katanya sambil menundukan kepala. Udin badannya biasa saja, kulitnya hitam. Maklum setiap hari berada di sekitar kolam renang. “Apalagi nanti kalau mulai tahun pelajaran baru. Kayanya sih pemerintah ngga mikirin kita, ya pak”, ucapnya lirih. Sayapun senyum kecut, sambil menerawang, betul juga ucapan Udin tersebut.

Satu bulan ia mendapat penghasilan sekitar 6 juta rupiah, dipotong obat dan peralatan lainnya dan ongkos perawatan dan bensin sepeda motor sebesar 2 juta rupiah. “Saya pakai pertamax lho Pak”, katanya bangga. Sebagian dari penghasilannya ia tabung sebagai uang cadangan atau emergency. Biasanya ada pengeluaran tambahan pada waktu Lebaran, ada yang sakit dan uang sekolah.

“Sementara saya begini saja, Pak”, ia menjawab pertanyaan apakah ingin memperluas usahanya dan mempekerjakan seseorang. Semoga Udin terus bisa menjalankan usahanya. (rahardi@ramelan.com)