Friday, 21 September 2018

Harapan yang Kita Punya

Kamis, 12 Januari 2012 — 17:45 WIB

Oleh: S Saiful Rahim

”KITA semua ini lahir prematur. Terlalu buru-buru ingin melihat dunia. Ingin melihat presiden yang disebut ganteng, yang setiap tampil selalu dengan busana baru yang licin. Sehingga cecak pun yang konon kakinya punya zat perekat, akan terpeleset bila mencoba merayap di sana,” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo, tanpa memberi salam lagi.

“Ada urusan apa tanpa hujan tanpa angin, kau bicara tentang kelahiran yang prematur? Aku malah lahir terlambat. Menurut ibuku, aku lahir setelah 11 bulan dikandung,” tanggap Mas Wargo sambil membuat kopi susu pesanan seorang pembeli.

“Aku hanya menanggapi entah siapa tadi yang ku dengar berkata hari depan negara dan bangsa kita suram,” kata Dul Karung yang kali ini sambil mencomot singkong goreng yang langsung dicaploknya.

“Apa hubungannya hari depan bangsa dan negara yang suram dengan kelahiran yang prematur?” tanya orang yang duduk di depan Mas Wargo sambil menerima kopi susu yang disodorkan pemilik warung itu.

“Menurut buku yang ditulis Kishore Mahbubani, salah seorang intelektual jempolan dunia mutakhir, sekarang ini era bangsa Asia memimpin dunia. Terutama di bidang ekonomi. Eropa dan Amerika Serikat sudah bangkrut. Tidak bisa diharapkan akan bangkit kembali,” celoteh Dul Karung seperti bukan ngobrol di warung kopi saja.

“Aku belum melihat apa hubungannya semua itu dengan kelahiran yang kau sebut-sebut prematur tadi,” sanggah seseorang entah yang mana.

“Kalau kita lahir 20 atau 30 tahun mendatang niscaya tidak mengalami hidup yang seperti ini. Negeri besar dengan tigaperempatnya lautan kok sampai mengimpor garam. Benar-benar tak masuk akal,” jelas Dul Karung dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

“Kau pun tidak mungkin berutang kalau sekadar ingin minum teh manis dan makan sepotong dua potong singkong goreng seperti sekarang, ya?” kata yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang hanya satu di warung tersebut.

Beberpa orang yang mendengar pun tersenyum. Bahkan ada yang tertawa meledak-ledak. Tentu saja kecuali Dul Karung.

“Aku sama sekali tidak meragukan apa yang ditulis Kishore Mahbubani dalam buku berjudul panjang The New Asian Hemisphere The Irresistible Shift of Global Power to the East itu. Yang aku sangsi Indonesia termasuk di dalamnya, meskipun secara geografis negeri kita berada di benua Asia,” komentar orang yang entah siapa itu.

“Soalnya untuk mampu menjadi hemisfer diperlukan pemimpin yang selain tidak dungu, juga berwatak dan mengutamakan kepentingan nasional di atas apa saja,” sambung orang yang tampaknya cukup cerdas dan kritis itu.

“Tapi kita tetap punya harapan,” kilah Dul Karung dengan tetap yakin.

“Dengan pemimpin yang koruptif dan hanya mementingkan golongan, bahkan diri sendiri?” kata beberapa orang serentak.

“Ya! Kita tetap punya harapan. Harapan untuk lagi-lagi ketinggalan,” kata Dul Karung seraya te­rus melangkah pergi. (syahsr@gmail.com)