Wednesday, 21 November 2018

Ilmuwan Nuklir Tewas, AS Bantah Terlibat

Kamis, 12 Januari 2012 — 16:43 WIB
Tehran Bom2

WASHINGTON (Pos Kota) – Amerika Serikat dan Israel membantah tuduhan keterlibatan pihak mereka atas meninggalnya ahli nuklir Iran dalam ledakan mobil di Teheran, Rabu (11/1).

Dalam sebuah pernyataan, Iran menuding Israel dan Amerika atas serangan yang menewaskan Mustafa Ahmadi Roshan itu.

Juru bicara Gedung Putih Tommy Vietor mengatakan Amerika mengutuk keras serangan itu dan semua tindakan kekerasan.

Pasukan keamanan Iran mengamankan lokasi ledakan bom di luar komplek sebuah universitas di Teheran (11/1). Ledakan ini menewaskan ilmuwan nuklir Iran dan melukai dua orang lainnya.

Media pemerintah Iran mengatakan ledakan di Iran menewaskan seorang guru besar yang juga bekerja sebagai ilmuwan pada program nuklir Iran.

Kantor berita FARS mengatakan dua orang pengendara sepeda motor yang tidak dikenal menempatkan bom di bawah mobil Mustafa Ahmadi Roshan, menewaskan ilmuwan itu dan supirnya pada hari Rabu.

Laporan itu mengatakan seorang pejalan kaki juga luka-luka akibat ledakan di utara ibukota Iran itu.

TAK HENTIKAN

Dalam sebuah pernyataan, Iran menuding Israel dan Amerika atas serangan itu. Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Rahimi lewat stasiun televisi pemerintah mengatakan, insiden itu tidak akan menghentikan negara itu mengembangkan aktivitias-aktivitas nuklirnya.

Menanggapi hal itu Amerika mengatakan “pihaknya sama sekali tidak ada urusan” dengan ledakan yang menewaskan Mustafa Ahmadi Roshan.

Juru bicara Gedung Putih Tommy Vietor mengatakan Amerika mengutuk keras serangan itu dan semua tindakan kekerasan.

Dalam sebuah konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Qatar, Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton kembali membantah keterlibatan Amerika.

Kantor berita Iran FARS mengatakan Mustafa Ahmadi Roshan yang berusia 32 tahun mengawasi sebuah departemen di fasilitas nuklir Natanz, yang merupakan tempat pengayaan uranium utama Iran. Iran telah melakukan pengayaan uranium yang relatif berkadar rendah di salah satu fasilitas nuklirnya.

Israel juga telah menyangkal bertanggungjawab atas serangan itu. Tetapi Kepala Militer Israel Letnan Jendral Benny Gantaz hari Selasa di hadapan parlemen mengatakan, tahun 2012 merupakan “tahun kritis” bagi Iran karena banyak hal akan terjadi pada negara itu secara tidak wajar.

Serangan itu terjadi sehari setelah sejumlah pejabat Iran memastikan bahwa kompleks bawah tanah yang baru telah mulai memperkaya uranium, dan beberapa diplomat yang terkait badan nuklir PBB mengatakan, pengayaan itu dilakukan pada tingkat kemurnian yang lebih tinggi. (VoA/dms)