Saturday, 22 September 2018

Kasihanilah Bapak Jokowi

Kamis, 12 Januari 2012 — 17:49 WIB

Oleh: S Saiful Rahim

”RASANYA sekarang tidak ada orang yang le­bih aku kasihani daripada Bapak Jokowi,” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo. Tentu saja setelah memberi salam dengan kata assalamu alaykum yang fasih.

Bagaikan ada yang mengomando, semua orang yang hadir di warung itu pun mengalihkan pandang ke arah Dul Karung. Padahal dari suaranya saja semua sudah tahu bahwa yang ngomong itu adalah Dul Karung.

“Siapa yang kaumaksud dengan Pak Jokowi itu?” ta­nya Mas Wargo yang sedang mengaduk kopi susu pesanan seorang pembeli.

“Cuma ada satu orang Jokowi di republik ini, yaitu Bapak Walikota Solo,” jawab Dul Karung sambil melemparkan bokongnya ke salah satu bagian kosong dari bangku panjang yang hanya satu di sana.

Astaghfirullah, Dul Karung…. Dul Karung. Daripada kau mengasihani Pak Jokowi yang tidak kekurangan sesuatu pun, lebih kau kasihani dirimu sendiri yang belum pernah mampu membayar apa pun yang kau makan dan kau minum di warung ini. Entah sudah berapa tinggi tumpukan utangmu kepada Mas Wargo. Belum lagi utang-utangmu di tempat lain. Karena pasti kau tidak mungkin hidup hanya dengan meminum segelas teh dan makan sepotong dua potong singkong goreng di warung ini,” komentar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

Beberapa orang yang mendengar komentar tersebut pun tersenyum. Malah ada yang tertawa. Tentu saja kecuali Dul Karung.

“Kalian tidak mengerti rupanya. Ternyata kalian tidak secerdas dan sepeka aku,” celoteh Dul Karung membuat orang-orang yang mendengar menjadi benar-benar tidak mengerti. Bukan terhadap ucapan orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang itu, tapi terhadap tanggapan Dul Karung.

“Kalian tak memperhatikan komentar dan tanggapan yang diberikan entah oleh siapa saja ketika Walikota Solo tersebut membeli mobil Kiat Esemka. Ada yang bilang Pak Jokowi ingin menyindir para pejabat yang bagai berlomba-lomba menggunakan barang mewah yang harga­nya, bagi kebanyakan rakyat, lebih tinggi daripada langit. Dan banyak lagi komentar dan tanggapan lain yang sebenarnya adalah obsesi si pemberi tanggapan itu sendiri. Padahal belum tentu Pak Jokowi berniat seperti itu. Mung­kin beliau membeli mobil Kiat Esemka semata-mata ­ingin, atau sangat, menghargai prestasi siswa SMK. Sekolah Menengah Kejuruan yang sering dianggap orang sebagai sekolah menengah kelas dua.

Kasihan kan kalau niat mulia Pak Jokowi itu dikatakan ingin menyindir. Sebab sebaik-baik sindiran atau me­nyindir, ia tetap bisa dianggap sebagai ejekan atau kecaman terhadap seseorang. Artinya itu adalah perbuatan, atau sesuatu, yang berpotensi menciptakan lawan atau musuh. Nah!” kata Dul Karung entah dari mana otaknya dapat menangkap suatu pendapat yang tak lazim terdengar di warung kopi.

Tapi sebelum ada orang yang menanggapi pendapat itu atau menanyakan dari mana otaknya memperoleh pendapat tersebut, Dul Karung telah keluar dan meninggalkan warung.

(syahsr@gmail.com )

 

  • Aa-bekti

    begitulah orang yang baik/ waras, dianggap gila kalow dilingkungan orang 2 gila