Wednesday, 19 September 2018

Baju Cheongsam Banyak Dijual Jelang Imlek

Jumat, 13 Januari 2012 — 21:59 WIB
china

KALIDERES (Pos Kota) – Menyambut Imlek 2563 atau pergantian tahun menurut tanggalan China,tanggal 23 Januari 2012 (tanggalan internasional), yang jatuh pada shio Naga Air. Berbagai kebutuhan ramai diperdagangkan mulai busana, pernak pernik Imlek sampai kebutuhan sembahyang.

Satu diantaranya pakaian khas Tiongkok yang popular “Cheongsam atau disebut juga Qipao” artinya  Pakain Panjang untuk laki-laki Zang Bao, sedang untuk wanita Zie Bao.Pakaian tradisional ini dibuat beraneka macam, Leher tinggi, lengkung leher baju tertutup, dan lengan baju bisa pendek, sedang atau panjang, tergantung musim dan selera. Cheongsam menampilkan kesederhanaan dan keanggunan, kemewahan dan kerapian.

Cheongsam tradisional banyak menggunakan bahan satin atau sutera yang bermotif khas. Beberapa motif yang umum dipakai untuk cheongsam adalah bunga, burung, naga, dan sebagainya. Motif-motif tersebut memiliki makna tertentu dan tak bisa dikenakan sembarangan. Masing-masing motif memiliki arti dan hanya boleh dikenakan kaum sosial tertentu. Beberapa motif yang dikenal antara lain: Bunga merupakan lambang pengorbanan yang sakral. Atau bunga Krisan perlambang panjang umur.

Atau motif burung lambang kecantikan dan kemurnian,bisa juga melambangkan kelas sosial pemakainya. Motif burung Hong,Merak bisa dikenakan wanita bangsawan Atau Naga melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, pendirian teguh. Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China, dan makhluk yang tertinggi menjadi raja semua hewan di alam semesta.

Pakaian Cheongsam ini digunakan pada hari-hari tertentu seprti pada saat pemilihan Koko dan Cici (Abang None keturunan etnis Tionghoa), atau digunakan sebagai tradisi seperti di rumah makan, penerimaan tamu termasuk di maskapai penerbangan.”Pakaian ini merupakan kebanggaan, mudah dikenakan dan nyaman,”tutur Ny. Young Ciu Cen  (mutiara yang lembut)

Cheongsam tidak sulit untuk dibuat memang sederhana. Tidak memiliki banyak aksesoris, kecuali yang dibordir semakin banyak bordiran semakin tinggi kelas ekonomi sang pemakai dan kini lebih banyak dikembangkan dan dipadukan dengan berbagai desain menghasilkan busana yang elegan dan menarik.”Tjioe Sui Un, pedagang dan desainer busana di Pasar Segar Citra Cengkareng.

Ia juga menyewakan berbagai pakaian atau menjual pakaian tradisional dari berbagai negara seperti Jepang, Korea selain China, sampai ke pernak perniknya.”Harganya relative dari dibawah Rp 100 ribu sampai sekitar Rp 350 ribu, kecuali yang dari satin atau sutera.”ucapnya.

(herman/sir)