Wednesday, 26 September 2018

Banten Rawan Bencana

Jumat, 13 Januari 2012 — 22:03 WIB
Salah satu bentuk bencana. (ist)

Salah satu bentuk bencana. (ist)

SERANG (Pos Kota) – Curah hujan di awal tahun 2012 mengalami peningkatan cukup tinggi. Berbagai daerah tengah waspada terhadap potensi banjir, tak terkecuali di Banten. Oleh karenanya daerah yang resmi menjadi provinsi ke-30 di Indonesia ini tengah mempersiapkan dan menyiagakan seluruh komponen untuk tanggap siaga bencana.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten Suyadi Wiraatmadja mengatakan, ancaman yang nyata dihadapi Banten pada awal 2012 adalah banjir. Pasalnya, hal tersebut disebabkan karena curah hujan hingga Februari 2012 sudah diatas rata-rata.

“Berdasarkan dana BPBD Banten, rata-rata wilayah di Provinsi Banten terdapat cekungan cekungan yang berpotensi mengakibatkan banjir, seperti di Kota Tangsel, Kota dan Kabupaten Tangerang.

Sementara banjir yang diakibatkan karena ketidaklancaran aliran sungai ke laut, seperti di Lebak dan Pandeglang yang merupakan langganan banjir,” ungkapnya, saat ditemui seusai acara Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana di lapangan Mapolda Banten, Jumat (13/1).

Suyadi mengatakan, pihaknya telah melakukan rapat koordinasi bersama instansi pemerintahan hingga kabupaten dan kota, dan unsur TNI, Polri, untuk mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan dalam tanggap bencana, seperti kesiapan personel, peralatan, logistik, dan posko-posko evakuasi.

“Beberapa kabupaten dan kota juga sudah menyelenggarakan rapat koordinasi dan menginventarisasi data potensi ancaman, kesiapan peralatan dan personel. Sementara ini tidak ada kekurangan peralatan, tapi dikhawatirkan tempat-tempat evakuasi kalau terjadi bencana besar. Tenda sudah kami geser ke kabupaten dan kota, sembako juga sudah, manakala perlu pendampingan kita siap,” paparnya.

Hal senada juga dikatakan Kapolda Banten Brigjen Pol eko Hadi Sutedjo ditemui ditempat sama. Kapolda menyatakan Banten merupakan daerah yang
cukup rawan banjir, tanah longsor, kemungkinan tsunami dan gelombang tinggi.

“Makanya bersama seluruh komponen ini yang penting menyiagakan termasuk prosedur untuk antisipasi menghadapi bencana itu. Seluruh komponen ini siaga 1 kali 24 jam” tegasnya. (haryono/dms)