Tuesday, 25 September 2018

Melirik Batik di Jejaring Sosial

Sabtu, 14 Januari 2012 — 21:33 WIB
Mandela-b

 

Oleh Thamrin Sonata*
DAN Nelson Mandela pun mengenakan kemeja batik, dengan senyum manis. Tampak begitu  nyaman  tokoh anti-apartheid Afrika Selatan dan pemenang Nobel itu dengan pakaian bermotik khas Indonesia. Begitupun tokoh semisal Bill Gates (Microsoft), Bill Clinton (mantan Presiden AS),  Zidane (pesepakbola) sampai Carlos Santana (Musikus) yang setengah “dipaksa” berbatik-ria saat menginjakkan kaki ke Indonesia.

Setelah ditabalkan sebagai warisan budaya non bendawi (Masterpieces of the Oral and Heritage of Humanity)  pada 2 Oktober 2009  oleh UNESCO, batik kian menjadi-jadi. Bahkan orang-orang Indonesia sendiri pun ramai-ramai ingin mengenakan kain batik – yang disesuaikan desain dan penggunaannya. Tidak hanya yang Jawa saja. Juga tak cuma yang tua yang mengenal motif parang rusak (dulu hanya dipakai kalangan priyayi Jawa), kawung, sido mukti, gringsing, kembang manggar dan seterusnya.

Termasuk tak penting benar itu batik tulis berbahan sutera dari daerah batik semisal Pekalongan atau Solo. Karena ada batik Kudus, Lasem, Tasikmalaya, Cirebon, atawa Banten yang punya identitas sendiri. Di samping tak perlu mengeluarkan kocek hingga dalam, karena untuk dapat memiliki daster, kaos atau celana pendek batik, cukup dengan selembar uang dua puluh ribuan. Bisa mendapat kembalian, malah.

BELANJA DI E-COMMERCE

Kini, untuk mendapatkan batik-batik yang beragam itu, tidak mesti ke sentranya seperti saat orang-orang pulang mudik lebaran dan melewati Pekalongan untuk membeli batik Kota Batik itu. Atau ke Pasar Klewer Solo, misalnya. Sebab, batik bisa dipesan melalui jejaring sosial semisal Black Barry Mania, facebook, dan twitter. Artinya, orang Ambon, Medan, Papua tanpa meninggalkan tempat tinggalnya bisa mendapatkan batik yang disuka cukup dengan membeli secara online, setelah memilih dari gambar yang ada. Bayarnya pun melalui bank yang (kini) sudah  online.

Kehadiran kreasi Mark Zuckerberg, Jerry Yang dan David Filo, Steve Jobs, Bill Gates baik melalui piranti keras maupun piranti lunak itu seperti menemukan pasangannya bagi meluasnya batik tangan-tangan anak negeri ini. Batik menjadi identitas bangsa Indonesia yang tak perlu dikhawatirkan dengan tangan-tangan panjang tak bertanggung jawab.
Semestinya “paten” dan pengesahan badan dunia UNESCO itu menggugah dan memanfaatkan teknologi di era digital sekarang. Kendati pembatiknya tinggal di gang sempit Laweyan (Solo), Trusmi (Cirebon) atau Medono dan Pekajangan (Pekalongan) yang telah disatroni desainer kondang dari ibukota sekelas Edward Hutabarat atau Iwan Tirta.
Bisnis batik di era yang disebut Thomas Mc Luhan (1964) sebagai fase keempat, The Electronic age, tinggal dimodifikasi secara tepat guna.
Sebab, bisnis di internet bukan berarti perusahaan seperti Google, Yahoo, atau Twitter yang menciptakan produk dan perangkat lunak untuk online. “Padahal saat ini perusahaan seperti itu jauh dikalahkan oleh ratusan bahkan ribuan usaha lain yang memanfaatkan internet,” terang Eric Schmidt, Executive Chairman, Google Inc saat di Indonesia dan menjawab pertanyaan yang diajukan.
Dengan demikian kehadiran teknologi informasi dalam hal ini bisnis di dunia online atau e-commerce bukan hantu menyeramkan jika dimanfaatkan secara cerdas dan kreatif. Amat-sangat membantu, malah. Perajin batik tetap berproduksi dengan melibatkan desainer-desainer yang juga telah piawai memanfaatkan corel draw, photoshop, freehand, pagemaker, atau illustrator. Percepatan dan kemudahan dengan piranti itu bukan menggerus-menelan-mematikan sebuah karya tradisional untuk batik, dan sejenisnya semisal : tenun, kain tapis, ulos, sulaman, dan songket. Karena dengan piranti lunak itu sebaliknya bisa membantu para kreator anak negeri ini lebih berkembang dan meluas jaringannya.
MELIRIK ONLINE
Dan batik sebagai identitas bangsa ini, sudah bisa dimajukan sebagai salah satu jago. Bagaimana memaksimalkannya – persisnya menjual – sudah selazimnya merangkul dan berteman dengan ICT (Information and Communication Technology) secara bijak dan benar. Dan, E-code membuka jalan untuk mengeruk kekayaan melalui e-mail, tulis Joe Vitale dan Jo Han Mok (2005). Dalam buku yang mengupas “Rahasia Sukses Bisnis Internet”, selanjutnya mereka menyebut : mendapatkan akses pada E-code merupakan satu-satunya cara bagi orang kecil untuk menjadi kaya.
Bila dipecahkan kodenya, E-code dalam bahasa sederhana berarti : Pesan elektronik yang tepat, yang dikirim ke massa elektronik yang tepat, pada waktu yang tepat, melalui e-mail, tambah Jo Han Mok. Dan itu, sesungguhnya bukan prinsip baru, tentu. Namun merupakan e-application yang logis menyangkut prinsip mengatur pemasaran offline langsung yang sukses.
Jika sinyal keberadaan itu sudah dipahami, batik – yang bisa dikategorikan industri kreatif – akan menemukan jalannya seperti yang disebutkan Presiden Hypnotic Joe Vitale. Batik bukan masa lalu yang penuh emosi seperti digambarkan dalam novel Canting-nya Arswendo Atmowiloto (Gramedia, 2007). Batik bisa menjadi masa depan bagi (sebagian) bangsa ini. Taklah lagi perlu uluran tangan Pemerintah hatta itu ada wadah Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GBKI) yang masih punya kantor bertingkat di jalan bergengsi di ibukota negara namun tak begitu bergigi.
Sebab GKBI tidak punya taring, tak tersebut dalam International Cooperative Alliance (ICA) yang mengeluarkan 300 daftar koperasi kelas dunia dan oleh PBB tahun 2012 ini disebut Tahun Koperasi. Padahal, kita punya kemeterian yang mengurusi hal itu sebagai upaya memberdayakan ekonomi kerakyatan seperti dicita-citakan Mohammad Hatta.
Dengan kehadiran teknologi informasi seperti e-mail, twitter atau facebook, batik – dan orang yang terlibat di dalamnya – bisa berdiri sendiri. Perajin bisa terus berkarya, dan hasilnya bisa dijual ke mana saja : tak terbatas penduduk negeri ini. Jika kita menuliskan – melirik atau mencari via google – batik, selayaknya kita mendapatkan lebih banyak (batik-batik) dari yang ada sekarang. Lebih melimpah lagi motif-motif dengan teknik batik yang telah bermetamorfosis. ***
*Penulis adalah Dewan Redaksi Tabloid Oposisi,Jakarta