Friday, 21 September 2018

RSUD Kota Bekasi Kekurangan Dokter Spesialis

Minggu, 15 Januari 2012 — 12:13 WIB
rsud-15

BEKASI (Pos Kota) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi kekurangan dokter spesialis. Pihak RSUD mengaku kesulitan saat melayani pasien dengan penyakit tertentu.

Direktur Umum dan Pelayanan RSUD Kota Bekasi Anthony D. Tulak kepada mengatakan, setiap bagian penyakit idealnya didampingi oleh dua orang dokter spesialis. Namun di RSUD Kota Bekasi umumnya masih ditangani satu dokter spesialis.

Selain itu juga, kata Anthony, kebanyakan dokter spesialis yang ada di RSUD saat ini sudah memasuki masa pensiun. Maka dari itu, pihaknya pun kini tengah mencari dokter spesialis agar dapat menggantikan dokter yang telah habis masa tugasnya.’’Memang saat ini kita kekurangan dokter spesialis. Iidealnya minimal setiap bagian ada dua dokter spesialis. Jika salah satu dokter sedang berhalangan ada yang bisa menggantikannya,” ungkapnya.

Saat ini ada empat dokter spesialis yang akan memasuki masa pensiun. Mereka di antaranya, dua orang dokter spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT), satu dokter spesialis sakit jiwa dan seorang dokter spesialis jantung. ”Untuk dokter spesialis THT dan Jantung akan pensiun tahun ini. Sedangkan dokter spesialis penyakit jiwa akan pensiun tahun depan,” terangnya.

Anthony menjelaskan, saat ini di RSUD Kota Bekasi terdapat 112 dokter. 70 diantaranya merupakan dokter spesialis dan sub spesialis. Sementara selebihnya merupakan dokter umum, dokter struktural, poliklinik dan dokter Unit Gawat Darurat (UGD) rawat jalan maupun rawat inap.

Kendati beberapa bagian kekurangan dokter spesialis, tetapi  ada juga beberapa bagian dokter spesialisnya tercukupi. Diantaranya seperti dokter spesialis kandungan yang memiliki 5 dokter spesialis, spesialis anak memiliki 6 dokter spesialis dan penyakit dalam memiliki juga memiliki 5 dokter spesialis. ”Sedangkan selebihnya kita hanya punya satu dokter spesialis,” imbuhnya.

Diakui Anthony, kebanyakan dokter lebih memilih bertugas di RS swasta dibandingkan di RSUD yang merupakan milik pemerintah. Pasalnya, menurut dia, dari segi penghasilan lebih menjanjikan praktek di RS milik swasta dibandingkan dengan milik pemerintah.’’Mungkin sebagian dokter masih beranggapan seperti itu.mungkin juga sebagian dari dokter pasti ingin mengembalikan biaya pendidikannya sebagai dokter. Apalagi untuk menjadi dokter mengeluarkan biaya yg tidak sedikit sekitar Rp150 juta sampai Rp300 juta, jadi mereka lebih memilih RS swasta,” tuturnya.

Di Kota Bekasi terdapat 31 RS swasta sementara RS milik pemerintah hanya satu.Untuk mengatasi krisis dokter spesialis di RSUD Kota Bekasi, lanjut Anthony, pihaknya menyekolahkan kembali beberapa dokter di perguruan tinggi untuk menjadi dokter spesialis, diantaranya di Universitas Gajah Mada (UGM). ”Ada juga yang sekolah di RS swasta,” tambahnya.

Sementara dokter yang disekolahkan untuk menjadi dokter spesialis diantaranya, dokter umum, dokter jantung, dua orang dokter spesialis darah, satu dokter kencing manis, dokter anak, dan spesialis spesialis kandungan. ”Kalau untuk dokter bedah tumor rencananya akan disekolahkan tahun depan. Semoga meraka nantinya dapat menggantikan tugas dokter spesialis yang telah selesai masa tugasnya,” tandasnya.

(dieni/sir)