Thursday, 15 November 2018

BUMN Mampu Bikin Konventer Kid

Senin, 16 Januari 2012 — 20:10 WIB
bbg

BADAN Usaha Milik Negara dinilai mampu dan kompoten membuat comverter kit, terkait rencana pemerintah untuk dalam program konversi BBM ke BBG. Karena itu Menteri Perindustrian MS Hidayat setuju terhadap opsi pembatalan impor converter kit terkait

“BUMN sekelas PT Dirgantara Indonesia saya yakin mampu dan kompeten untuk membuat alat tersebut . Karena itu sebaiknya tidak usah impor,” tandas Hidayat.

Menurutnya, pengerjaan pembuatan converter kit harus sangat teliti dan harus nol toleransi terhadap kesalahan, karena kesalahan sekecil apapun akan membahayakan pengendara mobil dijalanan.

Soal impor, lanjutnya, sebenarnya yang berhak mengajukan adalah Pertamina melalui perindustrian. “Tapi kalau nanti Menko bilang batal impor, perindustrian akan sangat mendukung.”

Tetapi jika nanti pemerintah dalam hal ini menko perekonomian tidak berani untuk mengambil keputusan tidak impor, maka dirinya akan meminta Meneg BUMN untuk mengajukan diri.

“Perindustrian akan meminta Meneg BUMN untuk pasang badan dan mengajukan diri untuk pembuatan converter kid. Serahkan sama Meneg BUMN untuk produksi, agar masyarakat tahu bukan keinginan kita untuk impor converter kid,” tandasnya.

KUALITAS BAIK

Meneg BUMN Dahlan Iskan juga sudah mengatakan bahwa converter kit, alat konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang akan dibuat oleh BUMN dan perusahaan swasta dalam negeri kualitasnya baik dan aman digunakan baik tangki maupun converter kit-nya.

Dahlan memahami kekhawatiran masyarakat soal kualitas tabung gas, apalagi dengan adanya kejadian tabung gas meledak. “Ya, memang ada yang merasa khawatir bocor. Tapi kan nanti yang buat itu orang-orang pintar. Di seluruh dunia juga belum ada kasus seperti itu (kebocoran converter kit-red). Semua sudah dihitung.”

Ia menyebutkan, titik bakar Bahan Bakar Gas (BBG) jenis Liquid Gas for Vehicle (LGV) itu di 450 derajat sementara premium di 220 derajat. “Jadi secara teoritis, premium lebih mudah terbakar daripada LVG dan lainnya. “Saya tidak ahli, itu pendapat teman-teman yang ahli dibidangnya,” jelas Dahlan.

Seperti diketahui, pemerintah awalnya akan mengimpor 250.000 unit converter kit terkait program tersebut. Angka tersebut hanya sebagian kecil dari total kebutuhan alat tersebut sebanyak 2,5 juta unit beberapa tahun mendatang.

Namun mahalnya harga pembelian dan pemasangan converter kit dipermasalahkan para pemilik kendaraan. Mereka berharap pemerintah mengambil kebijakan lain soal pembatasan BBM.

“Sudah harganya mahal SPBG juga masih terbatas. Pemerintah jangan memaksakan diri kalau belum siap. Jangan rakyat terus yang dikorbankan,” kata Baihaqi.(Tri/b)