Saturday, 22 September 2018

Di Mana Ketidakadilan?

Senin, 16 Januari 2012 — 10:55 WIB

    Oleh S Saiful Rahim

TIDAK seperti biasanya, setelah memberi salam dengan ucapan assalamu alaykum yang fasih sekali, mencomot sepotong singkong goreng, Dul Karung pun duduk diam di salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang yang hanya satu di warung Mas Wargo.

“Tumben kau seperti cacing tercekik, nggak ada suaranya. Biasanya kau masuk warung seperti burung kucica, ngoceh terus tanpa henti,” komentar Mas Wargo setelah menjawab salam Dul Karung dengan tidak begitu fasih.

“Saya sedang bingung memikirkan perilaku orang zaman sekarang, Mas. Makin jarang saja orang yang berprasangka baik terhadap orang lain. Selalu saja curiga. Di mana pun dan dalam hal apa saja,” tanggap Dul Karung sembari mengunyah singkong dengan mulut dimonyong-monyongkan karena kepanasan.

“Contohnya?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Lihat saja komentar, bahkan cercaan, yang ditimpakan banyak orang terhadap hakim yang memvonis AAL yang mencuri sandal jepit. Selain Pak Mahfud MD, tidak ada orang yang mengatakan AAL layak dihukum. Semua mencerca vonis itu tidak adil. Lalu mereka membandingkan dengan para koruptor besar yang dihukum ringan-ringan saja. Bahkan diberi remisi pula. Padahal uang negara yang mereka curi itu beribu lipat kali banyaknya dibandingkan harga sandal jepit yang dituduh dicuri AAL” jelas Dul Karung.

“Wah, kau sudah tidak waras, Dul. Apa kau tidak merasakan ketidakadilan berada di kasus itu?” bentak Mas Wargo seraya berhenti mengaduk kopi susu pesanan seorang pelanggan. Pemilik warung itu tampak amat berang.

“Saya pikir ketidakadilan itu bukan pada vonis AAL, tapi pada vonis yang ditimpakan kepada para koruptor. Hakim perkara AAL itu mungkin ingin berpesan kepada hakim yang lain, kalau maling sandal saja bisa dihukum seperti itu, mengapa hakim-hakim lain memvonis koruptor dengan hukuman ringan?

Karena itu, hendaknya mulai saat ini tidak boleh lagi ada hukuman ringan untuk koruptor. Jadikan hukuman terhadap AAL itu sebagai tolok ukur. Kalau ada orang yang mencuri uang negara sejuta kali harga sandal jepit yang dicolong AAL, ya vonis dia dengan sejuta kali lebih berat daripada yang diterima AAL,” kata Dul Karung membuat orang-orang yang mendengar jadi terhenyak. Bahkan ada yang mengangguk-angguk tanda bisa menerima pendapat tersebut.

“Demikian pula dengan Banggar DPR yang ingin merenovasi WC. Jangan buru-buru dicerca. Menurut pikiranku, dengan merenovasi WC atau apa pun juga, Banggar sudah memberikan pekerjaan terhadap banyak kuli bangunan. Itu kan uang negara atau uang rakyat digunakan untuk membuka lapangan kerja untuk rakyat juga. Daripada orang model Nazaruddin, sama-sama orang Banggar tetapi melipat uang dari sana-sini tanpa ada yang turun kepada rakyat semacam kuli bangunan itu,” sambung Dul Karung dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

Tapi kali ini reaksi orang yang hadir di warung sangat berbeda. Tak ada yang mengangguk, tapi banyak yang menggebrak meja. Dan Dul Karung pun buru-buru meninggalkan warung sebelum ada kopi atau teh panas disiramkan orang ke mukanya.( syahsr@gmail.com )*