Wednesday, 26 September 2018

Kebrutalan di Jalan Raya Makin Menggila

Senin, 16 Januari 2012 — 11:03 WIB

AKSI kekerasan di jalan kian menggejala. Di awal tahun ini setidaknya dua kali terjadi penembakan di jalan raya akibat masalah sepele, senggolan kendaraan bermotor.

Kasus terakhir menimpa Asep Suseno, 27, sopir toko material. Ia tewas ditembak pengendara sepeda motor ketika melintas di Jl Diponegoro, Kabupaten Bekasi, Jumat (13/1/2012) siang. Penyebabnya, mobil pick up yang dikemudikan Asep Suseno bersenggolan dengan sepeda motor yang ditumpangi dua orang.

Pertengkaran antara Asep dengan pengendara sepeda motor tidak terelakan. Babak berikutnya pembonceng sepeda motor menembak Asep. Korban tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Sebelumnya, 4 Januari 2012, pengendara sepeda motor ditembak pengemudi mobil di Jalan Raya Bekasi, Medan Satria, Kota Bekasi. Hasanuddin,32, ditembak pengemudi mobil hanya karena adu mulut setelah kedua kendaraan yang mereka tumpangi bersenggolan.

Dari kedua peristiwa tersebut telah memperlihatkan kepada kita bahwa aksi kekerasan mudah terlecut hanya karena persoalan yang sebenarnya sepele. Penyelesaian masalah secara kekeluargaan sering tidak tercapai akibat masing – masing pihak kadang terganjal sikap ego.

Emosi sering juga menjadi kian tak  terkendali akibat situasi tidak kondusif dan suasana hati. Tetapi yang perlu diantisipasi jika ego dan emosi menjadi tidak terkendali karena merasa adanya kekuatan tersembunyi akibat kepemilikan senjata api.

Jika ini yang terjadi berarti pengawasan penggunaan senjata api yang perlu ditingkatkan. Terkait kepemilikan senjata api oleh aparat menjadi tanggungjawab institusi. Begitu juga jika terjadi pelanggaran, sudah ada aturan mainnya. Namun, bagaimana dengan senjata api yang digunakan masyarakat sipil? Bagaimana pula dengan senjata api ilegal?

Kita tidak berprasangka bahwa penembak dalam kedua kasus akibat senggolan seperti disebutkan di bagian awal tulisan ini adalah warga sipil, bukan pula aparat. Kita juga tidak akan merujuk bahwa senjata api yang digunakan legal atau ilegal.

Melalui forum ini hanya ingin disampaikan bahwa aksi kekerasan di jalan raya sudah menjadi gejala yang perlu diantisipasi bersama. Jika tidak, mereka yang tidak mempunyai kemampuan memiliki dan menggunakan senjata api, tetap yang akan menjadi korban.

Kita tentunya tidak ingin, mereka yang tidak memiliki kekuatan akan selamanya dalam posisi lemah dan menjadi korban koboi jalanan. Polri sebagai institusi pembina kamtibmas, sudah selayaknya mencari solusi mencegah terjadinya aksi kekerasan ala koboi jalanan, di antaranya melalui pengawasan penggunaan senjata api.

Seiring dengan itu gencarkan  penarikan dan razia senjata api ilegal secara simultan. Apalagi statistik kriminal Mabes Polri menyebutkan bahwa selama tiga tahun terakhir (2009 -2011) terdapat 453 kasus senjata api ilegal. Di mana, mayoritas senjata api ilegal ini dipergunakan untuk tindak kejahatan dengan kekerasan. (*)