Wednesday, 21 November 2018

Truk Antre di Merak, Pengusaha Rugi

Senin, 16 Januari 2012 — 17:25 WIB
truk-sub

MERAK (Pos Kota) – Penumpukan truk angkutan barang yang berlangsung selama 5 hari di sekitar Pelabuhan Merak sudah berhasil diatasi PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak. Tidak hanya di dermaga pelabuhan, antrian kendaraan truk yang akan menyeberang ke Pelabuhan Bakauheuni, Lampung sempat mengular ke dalam Tol Tangerang-Merak.

“Sejak kemarin (Minggu, red) siang, penumpukan kendaraan truk diluar dermaga sudah kita atasi. Pelabuhan Merak kini sudah normal,” kata La Mane, Kepala PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak, kepada Pos Kota, Senin (16/1).

Dikatakan La Mane, kondisi cuaca perairan Selat Sunda saat ini cukup mendukung untuk layanan penyeberangan dengan ketinggian ombak normal yang mempermudah kapal feri merapat di dermaga pelabuhan. “Ketingggian gelombang di perairan Merak dalam 2 hari berkisar antara 1 hingga 1,5 meter. Ini sangat mendukung aktifitas pelayaran,” kata La Mane seraya mengatakan mengoperasikan 25 kapal.

Menurutnya, sebelumnya cuaca buruk disertai angin kencang sehingga banyak kapal kesulitan sandar di dermaga karena arus bawah laut dan tiupan angin cukup kencang. “Bahkan kita sempat menutup Dermaga 4 dan 5 sempat kita hentikan karena posisinya berada di laut lepas,” ujar La Mane.

Sementara itu, sejumlah pengusaha menderita kerugian hingga ratusan jutaan rupiah karena kemacetan yang terjadi di Pelabuhan Merak selama hampir sepekan. Kerugian itu terjadi lantaran membengkaknya biaya operasional pengiriman barang serta banyaknya barang yang rusak akibat terlalu lama berada di jalan. “Kalau lancar biaya operasional Rp 5 juta, karena macet bisa Rp 7 juta,” kata Surono, salah seorang sopir ekspedisi.

Menurutnya, selain biaya operasional, pengusaha juga harus menanggung risiko jika barang yang dikirim mengalami kerusakan. Surono mengaku, selain mendistribusikan barang kering, pihaknya juga mengirim barang basah seperti buah dan sayuran dari Pulau Jawa menuju Sumatera. “Kalau barang kering sih ga masalah. Tapi buah-buahan dan sayuran kan mudah busuk,” ujarnya.

Sedangkan pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di Jalan Cikuasa Atas juga mengaku merugi sejak kemacetan terjadi di jalan tersebut. Rizal, pengawas di SPBU 34-42408 Cikuasa Atas menyatakan, penjualan BBM di tempatnya nyaris mati total. “Hampir tidak ada kendaraan yang mengisi BBM karena SPBU tertutup antrian truk. Biar ga rugi banyak sebagian pegawai terpaksa kami liburkan,” katanya.

(haryono/sir)