Tuesday, 25 September 2018

‘Wayang’ dan ‘Binatang’

Senin, 16 Januari 2012 — 11:31 WIB

 Oleh Harmoko

MASYARAKAT Indonesia semakin kritis karena adanya keterbukaan yang luas dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dari hal-hal yang menyangkut  kemelut elit politik, eksekutif, yudikatif serta dalam kelompok-kelompok masyarakat baik yang melatarbelakangi soal-soal keyakinan serta ekonomi dan sosial kemasyarakatan lainnya semakin mencuat di wacana mass-media.

Sekelompok masyarakat memberikan gambaran bahwa pada zaman keemasan Majapahit, justru ditandai dengan nama-nama pembesar raja, mahapatih dan nayaka yang menggunakan nama binatang dengan sadar-sesadarnya. Misalnya Ratu Majapahit dengan nama Hayam Wuruk, nama Patih Gajah Mada, dan nama lain seperti Kebo Mercuet, Singa Lodra, Lembu Syuro dan lain-lainnya.

Zaman keemasan Majapahit tiba-tiba pudar dan sampailah pada zaman era kemerdekaan dimana suasana masuknya agama Islam, maka nama-nama pembesar negeri dan kaum pergerakan semakin terarah pada nilai-nilai keagamaan.

Kemudian dalam era Orde Lama banyak tanda-tanda zaman yang memberi makna pada nama tokoh pewayangan. Justru nama-nama yang ditujukan pada para elit diberikan rakyat dalam suasana humor yang menggelikan.

Seperti nama pendita Durno ditujukan pada tokoh yang suka mengadu-domba. Demikian juga nama Sengkuni ditujukan pada nayaka yang culas dan menggunakan cara-cara yang bersifat ”tipu-menipu”, dimana karakter-karakter tersebut muncul saja di permukaan, tanpa ada yang mengomando.

Demikian juga di era Orde Baru banyak tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan karakter seni pewayangan.

Yang lebih merusak citra justru di era reformasi, penggunaan karakter para pemimpin disamakan dengan ”binatang”. Hal tersebut muncul begitu saja dan disambar oleh mass-media dibumbui dengan yang lain-lainnya.

Misalnya ketika muncul masalah yang berkait dengan Mafia Hukum  banyak tiba-tiba dengan cara ”ujug-ujug” karakter yang disamakan dengan ”Buaya” dan ”Cicak”. Rupanya era tersebut agak panjang berlanjut, karena ada julukan tokoh ”kerbau” dalam suatu iring-iringan unjuk-rasa.

Kali ini dalam era reformasi menyebut karakter tokoh dengan nama ”binatang” 100 persen berbeda dengan sebutan Binatang dikala era Majapahit.

Ada lagi julukan yang dilansir oleh anggota terhormat DPR dengan istilah-istilah Binatang: Ikan Salmon, Ika teri, Ikan Piranha dan lain-lainnya.

Cara-cara tersebut mengingatkan kita  pada keributan anak-anak nakal yang masih dibawah umur, layaknya anak Taman Kanak-Kanak.

Ada apa dengan negeri yang konon ”berbudaya” dan konon memiliki keunggulan-keunggulan di zaman era kerajaan. Kok sekarang timbul lagi mengulang sebutan binatang, tetapi dengan suasana dan tujuan yang berbeda-beda.

Dalam hal ini penulis ingin mengingatkan kepada para elit politik baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, untuk bertindak bijak dalam mengambil tindakan dan keputusan yang tidak merugikan rakyat. Lebih-lebih jika tindakan itu sangat mengusik rasa keadilan rakyat banyak.

Kearifan yang bijak memerlukan tokoh-tokoh yang memiliki integritas serta idealisme tinggi dan moral serta akhlak yang baik.