Sunday, 18 November 2018

Bengawan Solo Meluap

Selasa, 17 Januari 2012 — 13:54 WIB
banjir-sub

SURABAYA(Pos Kota)– Masyarakat Bojonegoro dan Lamongan ketar-ketir melihat debit air Bengawan Solo yang hari ini, Selasa (17/1/2012) berada di titik tertinggi dilevel 14,46 peilschaal (normalnya di bawah 13 peilschaal,Red). Bahkan luapan air di anak sungainya, Bengawan Jero, telah merendam 9 dusun di 5 kecamatan.

“Sesuai hitungan kami, perjalanan air dari Karangnongko ke Kota Bojonegoro membutuhkan waktu sekitar Sembilan jam. Sehingga, dapat diprediksi air akan terus meningkat hingga pukul 15.00, sore ini,” ujarKepala Badan Penanggulanagan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro Kasiyanto, pagi tadi. Untuk informsi, pada pukul 06.00 ketinggian air di papan duga Desa Karangnongko, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro berada pada titik 27,29 peilschaal.

Menurut informasi di papan duga Taman Bengawan Solo (TBS) di Kota Bojonegoro pada pukul 08.00 pagi ketinggian air menyentuh titik 14,46 peilschaal. Ini merupakan titik tertinggi banjir Bengawan Solo tahun ini. Meski Sabtu lalu juga masuk status Siaga II, namun, saat itu ketinggian air hanya pada titik 14,17 peilschaal dan akhirnya terus menyusut. Sekadar informasi, kala Bojonegoro tahun lalu, titik air di Bengawan Solo sekitar 15 peilschaal.

Meski demikian, ia memprediksi jika peningkatan debit air tersebut tidak sampai menyentuh titik 15,00 peilschaal, atau pada status Siaga III. Sebab, lanjut dia, ketinggian air di papan duga Desa Karangnongko selama tiga jam terakhir sudah stabil dan belum ada potensi peningkatan kembali.

Di Lamongan, Banjir di wilayah Bengawan Jero terus meluas di lima kecamatan. Yakni, Kecamatan Karangbinangun, Glagah, Deket, Turi serta Kecamatan Kalitengah. Bahkan, di daerah ini, setidaknya sudah ada sembilan dusun yang terisolir akibat banjir.
Sembilan dusun itu adalah Dusun Beneran, Melawe, Kepudi Wetan dan Kepudi Kulon. Keempatnya berada di Desa Kepudibener, Kecamatan Turi. Selanjutnya Dusun Janggan yang masuk Desa Pomahan Janggan di Kecamatan Turi. Sedangkan keempat dusun lain yang terisolasi akibat banjir adalah Dusun Wates, Dondoman, Waru serta Dusun Pandantoyo. Keempatnya masuk Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah.

Akibatnya, akses dari dan ke sembilan dusun itu terisolasi. Sebab, jalan poros desa yang selama ini menjadi satu-satunya akses kini telah tergenang banjir. Dimana, ketinggian banjir saat ini mencapai 70 cm. Bahkan, untuk masuk ke dusun di Desa Bojoasri hanya dapat dilakukan dengan menggunakan perahu. Bagi pengendara roda dua, bisa menembus dengan jalan memutar. Namun juga harus melalui jalan yang tergenang banjir dengan ketinggian sekitar 40 cm.

Bajir di wilayah Bengawan Jero tak hanya memutus akses jalan desa. Sejumlah sekolah dan madrasah pun sudah mulai terendam banjir. Meski demikian, sekolah-madrasah tersebut tetap mewajibkan siswanya untuk masuk. Seperti halnya yang ada di kompleks Madrasah Rohmatul Ummah, Desa Karanganom, Kecamatan Karangbinangun, Kabupaten Lamongan.

TERENDAM BANJIR
Saat ini, kompleks madrasah yang memiliki pendidikan mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Aliyah (MA) itu sudah terendam banjir dengan ketinggian 5-10 cm. “Meski seluruh ruang kelas sudah kebanjiran, kami tetap harus melaksanakan proses belajar mengajar,” ujar Ahmad Thohir, salah satu guru madrasah setempat.

Menurut dia, banjir di wilayah Bengawan Jero  memang menjadi agenda tahunan di wilayah setempat. Namun, ia berharap agar Pemkab Lamongan dapat mencari solusi atas persoalan tersebut. Sebab, akibat banjir itu bukan hanya kerugiaan materiil yang timbul. Melainkan juga kerugian imateriil, salah satunya adalah terganggungan dunia pendidikan di wilayah setempat.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Lamongan Suprapto tak menyangkal jika banjir di wilayah Bengawan Jero terus meluas. Namun, kata dia, pihaknya terus berusaha mengurangi debit air di Bengawan Jero dengan mengoperasikan dua pompa di Sluice Kuro, Desa Kuro, Kecamatan Karangbinangun.

“Saat ini baru ada dua pompa dengan kapasitas 500 liter per detik dan sudah kita operasikan. Memang belum cukup ideal, sebab, kebutuhan riil pompa itu mestinya berkapasitas 3 ribu liter per detik,” terangnya. “Banjir Bengawan Jero memang tidak akan cukup diatasi dengan pompa saja. Tapi, setidaknya dengan pompanisasi, kita bisa sedikit mengurangi debit di Bengawan Jero, sehingga banjir tidak bertambah parah,” bebernya.

(nurqomar/sir)