Tuesday, 13 November 2018

Dua Kali Gagal Poligami

Selasa, 17 Januari 2012 — 0:40 WIB
nah-17jan12

ANDAIKAN Giarto, 25 (bukan nama sebenarnya), nrima ing pandum (tak memaksakan diri), niscaya bahagialah dalam rumahtangga. Tapi karena nafsu banget pengin poligami tanpa restu istri, dua kali mau nikahlagi, dua kali pula gagal. Bahkan kini Giarto mendekam di Polres Jembar karena palsukan dokumen pernikahan.

Tak dilarang dalam UU Perkawinan, lelaki berbini lebih dari satu, asalkan bukan PNS dan dapat izin istri pertama. Pegawai negeri dilarang poligami karena diatur dalam PP-10. Izin istri pertama diatur dalam UU Perkawinan, karena istri yang tidak ridla (rela) bisa menjadikan rumahtangga jilid II ini jadi ajang perseteruan bini muda vs bini tua. Suami hanya mengejar kenikmatan sesaat, tapi keluarga khususnya anak-anak serasa sudah hari kiamat.

Istri Giarto yang bernama Wahyuni, 23(bukan nama sebenarnya), termasuk perempuan yang anti poligami. Ketika suami berwacana mau berbini dua, dia langsung mencak-mencak. Pertama, dia cemburu karena cinta suami bakal dikapling-kapling. Kedua, tersinggung karena nambah bini berarti dia sudah jenuh pasa istri pertama. “Enak saja, aku hanya dianggap sepeda. Baru dua tahun dikendarai, masak sudah tidak enak sih….?” begitu protes Wahyuni dalam tamsil ibarat.

Keberatan lain Wahyuni, Giarto ini bukan golongan orang mapan. Meski masih muda, tapi dia bukan PNS apa lagi yang berekening gendut. Untuk bisa makan 3 X sehari saja bersama keluarga, harus sudah bersyukur. Ee, kok ini baru bisa ngliwet kenthel sithik (masak pera sedikit) sudah berulah mau poligami. Islam memang tak melarang poligami, tapi harus bisa adil dan kuat di onderdil dan materil. Jika tidak, lebih baik ya satu saja (Qur’an surat Anisa ayat 3).

Akan tetapi iman Giarto memang kalah sama  “si imin”. Saat melihat cewek cantik Atikah dari Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember, pendulumnya langsung kontak blip, blip. Karena ukuran celakanya kadung berubah, meski tanpa restu bini Giarto berusaha menikahi gadis itu. Entah bagaimana caranya, dia berhasil memperoleh dokumen aspal dan jadilah dia mau naik ring bersama Atikah.

Hari bahagia pada Februari 2011 itu tak sampai berwujud. Masalahnya, ketika pas hendak akad nikah, tahu-tahu Wahyuni istrinya menyusul ke KUA tempat ijab kabul itu berlangsung. Batalah perkawinan tersebut, bahkan Giarto diperiksa petugas KUA dan polisi atas tuduhan pemalsuan dokumen pernikahan. Tapi dengan beralasan mau kencing,  Giarto berhasil kabur. Loloslah dia dari sanksi hukum, meski hanya untuk sementara.

Awal Januari 2012 nama Giarto muncul kembali, ketika dia hendak menikah dengan Yayuk gadis Dusun Krajan, Desa Tempeh Kidul, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Polisi Jember yang masih punya file kejahatan Giarto segera meluncur ke lokasi calon mempelai perempuan. Dari sana kemudian diperoleh alamat baru lelaki yang asal Desa Garahan, Kecamatan Silo. Untuk kedua kalinya Giarto berurusan dengan pihak yang berwajib. Rencana nikah keduanya pun batal.

Yang menarik, ada pengakuan lain dari Giarto. Kenapa dia sampai nekad hendak menikah lagi? Karena saat mewacanakan poligami, sang bini langsung mengusirnya dari rumah, sekaligus diembargo dalam urusan ranjang. Namanya lelaki muda yang energik, berbulan-bulan tak diberi “jatah” tentu saja kelimpungan. Dari situlah dia kemudian berencana menikahi Atikah dan Yayuk. Tapi kedua-duanya juga gagal sampai pelaminan.

Untuk kali ini pasti sukses,  sukses jadi terdakwa di pengadilan. (BJ/Gunarso TS)

  • Dede Sudrajat

    BAGUS