Tuesday, 25 September 2018

Mulai Semrawut Lagi

Selasa, 17 Januari 2012 — 12:48 WIB

Oleh Sofjan Lubis

KETIKA sedang asyik melihat-lihat di satu toko buku, tiba-tiba seseorang menepuk bahu belakang saya. Begitu saya lihat, hampir saja saya menjerit. Karena ia adalah seorang kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Sekitar 10 tahun kami berpisah, tak ada kabar ceritanya.

“Enggak bosan baca buku,” katanya sambil menyalami saya.

“Ya, mumpung lagi mau,” sahut saya.

“Saya lihat Bung enggak berobah, kayak dulu juga.”

“Ah, mana pula. Zaman saja sudah berobah.”

“Betul. Obatnya apa?”

“Gampang. Selalu bersyukur, murah senyum dan jalan kaki.”

“Masih nyetir sendiri?”

“Masih.”

“Hebat. Mobil parkir di mana, kan di sini enggak boleh? Saya parkir di gedung parkir. Kemari jalan kaki.”

“Enggak boleh dulu, sekarang bisa. “

Memang Pemprov DKI sudah menetapkan Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk bebas dari parkir. Mulanya rapi. Beberapa hari kemudian mulai ada yang parkir menjorok ke trotoar. Sekarang sudah bisa parkir satu jalur. Tak ada yang melarang. Tak ada pula rambu boleh parkir satu jalur.

“Kalau begitu DKI gagal dong?” lanjut kawan tadi.

“Tak tahulah. Dibilang gagal enggak, dibilang enggak gagal juga enggak.”

“Jadi apa namanya?”

“Karena enggak konsisten dan konsekuen. Coba begitu dilarang, tindak mereka yang melanggar. Jangan dibiarkan. Sekarang baru sebagian yang parkir satu  jalur, nantinya bisa tambah lagi.”

“Wah, kalau begitu saya nyesal parkir di gedung parkir. Jalan mana panas lagi.”

“Nanti katanya dibikin trotoar untuk pejalan kaki. Cuma enggak tahu, pakai tutup enggak.”

“Bagusnya pakai tutup, jadi orang enggak kepanasan. Hujan  juga  bisa jalan.”

“Kalau belum, proyek lagi dong.”

“Nyindir nih,” kata kawan tadi sambil pamit ke tempat lain.  (lubis1209@gmail.com)*