Friday, 19 October 2018

Banjir Merusak Perekonomian

Kamis, 19 Januari 2012 — 13:07 WIB

Oleh Harmoko

HAMPIR tiap tahun rakyat Indonesia mengalami musim banjir yang bermacam-macam jenisnya. Ada banjir biasa, ada banjir bandang, ada banjir yang tidak terduga datangnya, ada banjir kiriman serta banjir yang sifatnya permanent.

Banjir tahun ini sudah diprediksi oleh BOMG. Potensi banjir tahun ini sangat besar. Bahkan untuk Kota Jakarta mengalami banjir bandang besar.

Demikian juga daerah-daerah lainnya. Prediksi BOMG ternyata benar. Banyak sungai yang meluap. Pertama kali adalah air Bengawan Solo. Beberapa daerah seperti kota Solo, Sragen,Ngawi, Bojonegoro dan lainya terkena dampak banjir.

Minggu-minggu yang lalu serta minggu-minggu sekarang air sungai maupun bengawan banyak meluap. Beberapa daerah di Banten terserang bencana banjir. Tinggi air hingga mencapai 4 meter. Bahkan dua orang tewas.

Yang lebih memprihatinkan adalah Jalan Tol Jakarta-Merak, maupun Merak-Jakarta di Km 57, diterjang banjir. Dampak yang terlihat adalah truk-truk yang mengangkut bahan makanan, macet total.

Pasokan bahan-bahan sembako juga terhambat di Merak. Penyeberangan terganjal oleh gelombang laut yang tingginya hingga mencapai 4-5 meter, sehingga walaupun ada kapal, namun tidak bisa jalan ke laut, diterjang ombak. Produksi ikan juga turun.

Bahan-bahan dari Sumatra untuk Jawa dan sebaliknya dari Jawa ke Sumatra, semuanya terhambat, hingga ada bahan makanan yang membusuk.

Apa yang terjadi adalah banjir tenyata membawa dampak pada perekonomian rakyat. Apa yang terjadi di lapangan dewasa ini adalah menunggu-menunggu dan menunggu suatu ”kepastian”.

Situasi banjir di Jakarta semakin parah. Meskipun Gubernur DKI menjanjikan ”angin sorga” banjir bisa diatasi, tetapi kenyataan dilapangan sangat susah diprediksi dan diperbaiki.

Kesalahan utama adalah rancangan tata-kota DKI tidak semulus seperti apa yang dirancang dalam blue-print. Tetapi justru di lapangan, selain terjadi lonjakan pembangunan perumahan, mal, supermarket dan perumahan padat juga terjadi kemacetan total yang dialami kota Jakarta tiap hari.

”Tiada hari tanpa kemacetan” itulah sumpah-serapah rakyat pengguna jalan.

Kerugian perekonomian secara makro dan mikro terjadi di Jakarta. Bahkan tidak mustahil keluh-kesah yang dilontarkan Pemerintah Pusat, Pemda, Masyarakat luas serta DPR maupun DPRD, tidak bisa menjawab untuk mengatasinya.

Oleh karena itu perlu ada pemikiran ulang terhadap Rencana dan Rancangan Pembangunan di Jakarta khususnya untuk pembangunan di bidang transportasi dan upaya mengatasi banjir.

Hutan beton, hutan pencakar langit, hutan daerah rawan banjir semakin berlomba didirikan. Harus segera diubah menjadi wilayah yang ramah lingkungan.

Ibukota yang tidak memiliki rencana dan rancangan tata-kota yang baik, akan menimbulkan berbagai dampak terhadap perekonomian rakyat serta tumbuhnya kriminalitas serta tumbuhnya rasa ketidakpercayaan kepada Pemerintah Pusat maupun kepada pemerintah daerah.