Sunday, 18 November 2018

Sudah “Ditembak” Duluan

Kamis, 19 Januari 2012 — 1:09 WIB
nah-ini-19jan12 copy

BERANI  juga anak muda ini. Sudah tahu gendakannya istri seorang polisi, kok jalan terus. Apa tidak takut ditembak? Enggak tuh! Bahkan sebelum suaminya menembak, Giyadi, 23 (bukan nama sebenarnya), sudah  berhasil “menembak” duluan Hartini, 33 (bukan nama sebenarnya),, berapa kali di rumah kos-kosan.

Banyak praktisi selingkuh yang akan mundur teratur, ketika gendakannya istri seorang polisi. Masalahnya, jika ketahuan akibatnya bisa fatal. Enaknya “nembak” tak seberapa, tapi tahu-tahu kepala ditembak melinjo sampai bolong. Kalau sekedar bolong tapi selamat, masih mendingan. Biasanya, kalau sudah kena tembak kepala tembus belakang ya wasalamlah. Apa mau, matinya dikenang sebagai lelaki yang ditembak gara-gara ndemeni bini orang?

Agaknya Giyadi warga Talkandang Kecamatan Situbondo (Jatim) ini memang peselingkuh berdarah dingin. Meski gendakannya, Hartini, bini petugas kepolisian, siapa takut? Dia berani begitu termasuk juga begituan, karena ada jaminan keamanan dari pihak terkait, maksudnya Hartini sendiri selaku gebedannya. “Kamu tenang saja di sini, wong suamiku jarang pulang,” kata Hartini memberi jaminan.

Samhudi, 40 (bukan nama sebenarnya),, memang sering jadi “Bang Toyib”, karena selama ini rumah tangganya sedang dilanda kemelut. Ibarat partai Samhudi – Hartini sudah bertekad mau pecah koalisi sebelum 2014. Masalahnya, sidang di Pengadilan Agama itu tidak bisa langsung klir. Karena majelis hakim selalu bilang, pikir dulu dan pikir dulu. Padahal baik Hartini maupun Samhudi sudah tidak u’uk lagi.

Sebagai wanita muda yang masih enerjik, sudah barang tentu tak tahan berlama-lama sepi dari sentuhan lelaki. Karyawati bank swasta di Situbondo itu pun kemudian berkenalan dengan instruktur marching band Giyadi. Meski nampaknya masih lholhak-lholhok (belum dewasa), tapi tongkrongannya boleh juga. “Tongkrongannya saja begitu, apa lagi “tangkringan”-nya nanti….” begitu Hartini membayangkan.

Meski usia jauh di atasnya, penampilan Hartini yang karyawati bank, memang sangat menjanjikan. Wajah cantik, bodi seksi, dan betis mbunting padi. Sebagai lelaki normal, diberi peluang sedemikian rupa tentu saja langsung nyosor. Maka berapa kali main ke rumah Hartini di Jalan Anggrek, Situbondo kota, dia berhasil “nembak” duluan istri polisi tersebut.

Semula warga juga tak curiga bahwa anak muda ini seorang PIL. Karena dikiranya adik sendiri atau adik ipar, warga hanya mengawasi dari jauh. Tapi sekali waktu ada warga yang mencoba mengintipnya. Lho, kok? Jika sekedar adik ipar atau adik kandung, tak mungkin berbuat sejauh itu. Maksudnya, warga melihat dengan mata kepala sendiri, Hartini dengan tamu lelakinya tersebut berbuat sebagaimana layaknya suami istri.

Samhudi selaku pihak yang berkompeten, segera dikabari perihal kelakuan istrinya. Pak polisi ini tidak kaget-kaget amat, karena bila laporan itu benar, justru merupakan sebuah point untuk bisa memuluskan rencana perceraiannya. Sebab di Pengadilan Agama, jika alasan untuk cerai karena perzinaan, langsung dterima dan ketok palu. “Ya, nanti saya mau ikut menggerebeknya,” kata Samhudi pada sang pelapor.

Hari nahas itu pun tiba. Di kala Giyadi – Hartini kelonan di kamar beberapa malam lalu, tahu-tahu digerebek warga didampingi suaminya. Keduanya pun diperiksa ke Polres Situbondo. Dalam pemeriksaan Giyadi mengaku tak berbuat apa-apa. Tapi melihat bukti sperma yang berceceran di sprei, dia tak bisa berkutik lagi. Keduanya dijerat Pasal 284 KUHP, tentang perzinahan dengan ancaman hukuman 9 bulan penjara, atas laporan sang suami.

Untung, kan? Tak sampai ditembak, meski sudah nembak duluan. (DS/Gunarso TS)