Tuesday, 25 September 2018

Stop Mimpi Buruk Perdagangan Anak

Jumat, 20 Januari 2012 — 11:09 WIB

TIGA pelajar SMP di Jakarta dijual germo kepada lelaki hidung belang. Seperti diberitakan harian ini (Kamis,19/1), satu pelajar ‘dijual’ hanya seharga Rp1,5 juta. Peristiwa tragis ini hanya satu contoh kasus bentuk perdagangan anak di bawah umur yang kian menjamur di negeri kita.

Jika kita melirik data UNICEF tentunya akan terbelalak. Sebab, badan dunia ini menyebutkan setiap tahun ada sekitar 1,2 juta anak di dunia menjadi korban perdagangan anak.

Di Indonesia disebutkan sebanyak 100.000 anak menjadi korban perdagangan anak setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 40.000 hingga 70.000 di antaranya menjadi korban prostitusi.

Tidak bermaksud memperdebatkan data tersebut, kita hanya ingin mengatakan bahwa perdagangan anak apa pun bentuknya perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah. Perhatian bukan saja mengamankan mereka yang telah menjadi korban, tetapi yang lebih utama adalah mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.

Ini diperlukan sebuah terobosan dalam merumuskan sebuah kebijakan yang terkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. Sebab, dalam banyak kasus, perdagangan anak menjadi tumbuh subur akibat keterbelakangan status sosial ekonomi masyarakat di sejumlah daerah.

Situasi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh mereka yang lebih memiliki kemampuan dalam status sosial ekonomi, termasuk informasi guna menjaring anak- anak tidak mampu untuk diperjualbelikan.

Repotnya lagi trafficking semacam ini tidak saja antardaerah, tetapi sudah lintas negara yang difasilitasi sindikat.
Ada yang memperkirakan sindikat internasional perdagangan manusia dapat meraup keuntungan 7 miliar dolar AS setiap tahun dari perdagangan atas 40-70 ribu anak dan perempuan asal kawasan Asia.

Angka ini cukup spektakuler sehingga diperkirakan keuntungan dari perdagangan manusia merupakan salah satu dari tiga sumber pendapatan teratas bagi kejahatan terorganisir setelah perdagangan narkotika dan perdagangan senjata.

Kita tidak perlu terlalu jauh menganalisa sindikat internasional ini, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mengatasi perdagangan anak yang ada di sekitar kita.

Tidak dapat dipungkiri, di kota besar seperti Jakarta, kita saksikan anak- anak  dipaksa melacurkan diri karena terjepit persoalan ekonomi. Persoalan memang menjadi kompleks jika sudah menyangkut kesejahteraan, tetapi tidak berarti pemecahan masalah ikut larut menjadi sulit dan rumit.

Satu kata kuncinya adakah kemauan dan keseriusan pemerintah dalam memberikan perlindungan menyeluruh kepada anak Indonesia.

Jika perlindungan negara atas hak – hak anak masih juga lemah, jika masih saja terjadi diskriminasi perlakuan, maka perdagangan anak akan selamanya menjadi mimpi buruk bangsa Indonesia. (*)