Wednesday, 19 September 2018

Pendita Durna Van Jombang

Senin, 23 Januari 2012 — 22:11 WIB
nah-24jan12 copy

ANDAIKAN  sebuah wayang, Mbah Kadar, 62 (bukan nama sebenarnya), ini dapukannya paling cocok jadi Pendita Durna. Sama-sama paranormal, sama-sama pula doyan perempuan. Bedanya, Durna wayang selama ini baru wacana, “Durna” dari dari Jombang (Jatim) tersebut sudah kenyang menggauli pasiennya.

Tokoh wayang Durna memang terkenal mata keranjang. Setiap perempuan cantik maunya dikawini. Dari Setyaboma, Rukmini, Srikandi, dirayu agar mau jadi Ketua Darma Wanita Sokalima. Tapi semuanya gagal. Setyaboma dan Rukmini diambil Kresna, dan Srikandi dipersunting Harjuna murid sendiri. Dus karena itu, selama hidup baru sekali Durna bergaul dan menggauli wanita, yakni Dewi Wilutama, itu pun saat sang bidadari berwud kuda yang bisa terbang, seperti merk cat.

Ini lagi kelakuan orang yang mirip-mirip pendita Durna. Namanya Mbah Kadar, warga Desa Sukorejo Kecamatan Perak. Kakek-kakek ini memang juga berprofesi sebagai dukun/paranormal, sebagaimana Durna wayang kulit. Cuma bedanya, Durna hanya sekali “mbelah duren”, sedangkan paranormal Mbah Kadar sudah berulang kali menggauli Ninik, 20(bukan nama sebenarnya), hingga hamil. Warga yang tak terima kelakuan dukun cabul ini hampir saja menggebuki Mbah Kadar.

Kakek-kakek genit sekalipun, biasanya memilih lawan yang STNK, wanita berumur 40 tahun ke atas. Jika perempuan usia 20 tahun ditelateni juga, itu kan sama saja menggauli cucu sendiri. Apa tega dan bisa nihil? Tapi rupanya Mbah Kadar ini termasuk kategori aksioma alias perkecualian. Biar lebih pantas dari cucunya, gliyak-gliyak (pelan-pelan) dilakoni juga.

Asmara kakek yang menggoyang desa itu berumula dari penyakit misterius yang diderita gadis Ninik. Sudah dibawa berobat ke dokter dan mantri klinik, tak ada perubahan. Keluarganya pun lalu merujuk ke Mbah Kadar paranormal yang masih tetangga sendiri. “Pun mbah, ajeng sampeyan napakke kula manut mawon, watone si genduk mantun (mau diapakan saja, saya terserah, yang penting si bocah sembuh),” kata keluarga yang sudah kehabisan akal.

Harusnya, Mbah Kadar ini mampu memaknai maksud sesungguhnya keluarga Ninik. Tapi rupanya dia menerimanya secara harfiah saja. Istilah “ajeng sampeyan napkke kula manut” diartikan bahwa sampai digauli pun terserah saja. Karena merasa sudah memperoleh legitimasi, akhirnya terapi pengobatan Ninik pun pakai pakai ilmu dalam yang berbasis pencabulan. Dengan alasan untuk penyembuhan, gadis Ninik lalu disetubuhi bak istri sendiri.

Apa yang jadi target keluarga agaknya tercapai sudah. Beberapa kali berobat ke mbah Kadar, kondisi Ninik langsung berubah. Tapi jangan salah, yang berubah justru cuma bagian perutnya. Biasanya rata kayak pasangan keramik yang diwaterpas, kok sekarang menggelembung maju lebih dari 5 centi, sementara pusernya pun bergeser dari garis ekuatornya. “Lho, kok kamu malah dihamili. Kurang aja Mbah Kadar, agaknya njaluk modar (minta mati)….” maki keluarganya.

Yang terjadi selanjutnya sungguh tragis. Keluarga Ninik dan para tetangga mengejar Mbah Kadar yang lari pontang-panting minta perlindungan Pak Kasun. Meski polisi sudah datang, mereka tetap saja ingin “nyampurnakke” (membunuh) si dukun cabul. Baru setelah menjamin kasus ini tetap akan dituntut tuntas, warga mau pergi. Mbah Kadar pun lalu dibawa ke Polsek Perak pakai mobil polisi. Dalam pemeriksaan dia mengakui sudah berulangkali menyetubuhi pasien Ninik.

Umur boleh Pepabri, tapi semangat tetap akabri ya mBah? (DS/Gunarso TS)