Sunday, 23 September 2018

Gong Xi Fa Cai

Selasa, 24 Januari 2012 — 11:31 WIB
Rahadi Ramelan-n

Oleh Rahardi Ramelan

MENJELANG perayaan Hari Raya Imlek, warna merah mendominasi Jakarta dan sekitarnya. Lampion merah bergantungan dimana-mana. Pohon cherry yang sebetulnya bukan tanaman khas negara tropis juga menghias pusat belanja dan mal, serta hotel. Suasana yang penuh keceriaan.

Disisi lain kita disuguhi berita dan foto mengenai kehidupan bangsa yang semakin memprihatikan. Pertikaian dan saling menyalahkan antara mereka yang menamakan wakil rakyat, pemerintah yang memimpin dan berkuasa, serta jajaran penegak hukum, terus berlangsung.

Sebuah kursi yang diperuntukan bagi mereka yang mengatur anggaran bernilai sampai 24 juta rupiah. Renovasi istana ratusan miliar rupiah. Penyelesaian hukum penyimpangan uang rakyat dan korupsi yang jumlahnya trilyunan tidak juga ada ujungnya.

Gambar yang menyedihkan datang dari Lebak, Banten. Jembatan gantung yang roboh masih dipakai oleh murid-murid sekolah untuk bisa pergii sekolah. Mereka harus  menghadapi bahaya. Tetapi resiko tetap diambil demi masa depan. Jadi pintar. Gambaran mengenai keadaan jembatan di Lebak ini sudah menjadi berita dunia. Sungguh memilukan.

Kemudian kita juga menjadi sangat miris, gara-gara yang katanya mencuri sebuah sendal, seorang anak harus diadili dan dinyatakan bersalah. Mungkin biaya proses pengadilan lebih mahal dari harga sendal itu sendiri. Apa sebetulnya yang dicari oleh penegak hukum? Kebenaran atau keadilan?Sungguh tidak jelas mengapa bangsa ini menjadi begini. Sepertinya kita kehilangan nurani kita. Kehilangan harga diri.

Kalau kita percaya angka-angka, katanya ekonomi kita membaik. Memang bisa kita lihat pusat-pusat belanja dan mal yang selalu dipadati pengunjung. Restoran, rumah makan, dan warung juga dipenuhi pengunjung. Masing-masing mempunyai bagiannya. Bagi yang kecil dan dibawah bagiannya selalu lebih kecil.

Masalah pengurangan subsidi BBM, yang seharusnya dimaksudkan agar anggaran untuk kaum miskin lebih banyak tidak kunjung dilaksanakan. Katanya mulai 1 April akan diterapkan. Kita tunggu saja bagaimana jadinya, karena pemerintah sudah terlalu lama mempertimbangkan berbagai cara, tapi kita tidak apa hasilnya. Siapa takut?

Kebanyakan pemakai roda dua atau sepeda motor sudah mempergunakan BBM non subsidi. Antrean kendaraan roda empat atau mobil di SPBU justru masih mengisi premium yang disubsidi. Kita lihat saja nanti bagaimana 1 April akan berubah gambarannya.

Semoga pemerintah berhasil, sehingga jembatan segera diperbaiki, tidak ada lagi sekolah bocor, jalan di pedesaan disemen atau dibeton. Pungutan resmi dan tidak resmi diharapkan berkurang. Jangan uang yang ada dipakai lagi untuk beli kursi mahal para pejabat dan wakil rakyat, atau renovasi gedung dan istana.

Berhentikanlah semua program gedung, istana, renovasi, pagar, dan kursi. Pengurangan subsidi BBM adalah uang untuk rakyat. Rakyat sangat menanti keputusan itu. Kita tunggu.

Hujan yang masih terus mengguyur, bagi saudara kita merupakan pertanda akan kehidupan yang lebih makmur ditahun ini. Semoga keceriaan saudara kita etnis Tionghoa pada Hari Raya Imlek ini, akan memberikan angin segar bagi masyarakat lainnya.

Gong Xi Fa Cai (rahardi@ramelan.com)