Selasa, 24 Januari 2012 — 8:03 WIB

Jabatan Tertinggi Masa Kini

Oleh S Saiful Rahim

BERBEDA dengan minggu lalu, kali ini Dul Karung masuk ke warung kopi Mas Wargo dengan wajah yang berseri-seri. Senyumnya pun tampak ceria sekali.

“Mengapa kau senyam-senyum tanpa sebab seperti penghuni rumah sakit jiwa, Dul?” tanya seorang hadirin entah yang mana.

“Aku senang mendengar berita bahwa negeri kita naik peringkat lagi. Kini menjadi kian seksi di mata investor dunia. Perekonomian Indonesia dinilai cukup kuat sehingga tidak akan kena imbas krisis ekonomi yang kini melanda Amerika dan Eropa,” jawab Dul Karung dengan gaya sok tahu yang mengundang cibiran beberapa orang yang hadir di sana.

“Apa hubungannya semua itu denganmu, Dul? Kenaikan peringkat atau apa pun namanya itu, takkan banyak manfaatnya untuk rakyat kecil. Apalagi untuk penganggur seperti kamu,” kata orang yang duduk selang tiga orang di kanan Dul Karung dengan suara datar dan dingin.

“Ah, pikiranmu picik dan dangkal,” tanggap Dul Karung dengan agak ketus. “Kalau investasi membanjir, lapangan kerja akan terbuka luas. Mungkin warung Mas Wargo pun akan kena sawab banjir investasi itu. Pelanggannya akan tambah dan warung ini akan jadi kafe yang besar dengan keuntungan yang berlimpah. Nah, kalau sudah begitu aku kan jadi tidak sungkan lagi berutang banyak-banyak. Apalagi bila pekerja asingnya ikut duduk-duduk minum di sini. Mereka pasti ngomong Inggris, Cina, Korea atau entah apalagi. Kalau sering mendengar lama-lama kita akan mengerti dan menguasai bahasa mereka. Bila masyarakat jelata, komunitas warung kopi kakilima seperti kita, mampu menguasai dua-tiga bahasa asing, pasti peringkat negara kita akan naik lagi,” sambung Dul Karung dengan yakin, meskipun tidak bisa meyakinkan orang lain.

“Mimpi kau, Dul! Mengigau tanpa tidur,” kata orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung.
“Kau tahu, kata Garin Nugroho, negeri kita ini adalah negara makelar. Menurutku dia benar. Garin memang bukan politisi, tapi seorang seniman. Dan seniman memiliki daya rasa yang halus dan peka. Lihat saja fakta yang ada sekarang. Apapun dimakelari, alias dicaloin.

Kalau mimpimu benar, negeri kita akan kebanjiran investor, di mana pun investasi itu ditanam pasti akan jatuh ke tangan makelar atau tangan calo belaka. Sekarang posisi makelar itu lebih tinggi daripada posisi menteri atau anggota DPR. Buktinya berita-berita yang bergemuruh di sekeliling kita adalah kabar tentang pejabat tinggi setingkat dirjen, bahkan  menteri, menjadi makelar.

Gaung yang menggema di DPR pun bukan perdebatan politik, tetapi riuhnya para anggota yang terhormat itu menjadi makelar berbagai proyek. Kalau dulu banyak makelar yang bermimpi bisa menjadi anggota DPR atau pejabat tinggi, sekarang justru terbalik. Para pejabat dan anggota DPR yang berebut menjadi makelar,” sambung orang itu memukau semua yang mendengar, kecuali Dul Karung.

Karena isi otaknya tak mampu menjangkau dengan baik apa yang dikatakan orang itu, Dul Karung pun ngeloyor meninggalkan warung.( syahsr@gmail.com )*


Induk

Sabtu, 27 Juni 2015 — 6:11 WIB
Belum Saatnya Menaikkan Dana Parpol
Jumat, 26 Juni 2015 — 5:43 WIB
Kebutuhan, Kemiskinan dan Kejahatan
Kamis, 25 Juni 2015 — 5:39 WIB
Prahara Belum Berakhir
Rabu, 24 Juni 2015 — 6:17 WIB
Politik Dinasti Perlu Diakhiri
Selasa, 23 Juni 2015 — 6:13 WIB
Polemik Raskin

Kopi Pagi

Kamis, 25 Juni 2015 — 5:38 WIB
Utang Luar Negeri
Senin, 22 Juni 2015 — 6:22 WIB
HUT Kota Jakarta
Kamis, 18 Juni 2015 — 4:48 WIB
Puasa dan Kepedulian Sosial
Senin, 15 Juni 2015 — 6:15 WIB
Rodinda
Kamis, 11 Juni 2015 — 6:09 WIB
Peran Bulog

Bang Oji

Selasa, 23 Juni 2015 — 6:13 WIB
Berkah
Selasa, 9 Juni 2015 — 5:37 WIB
Tahu Diri ….
Selasa, 26 Mei 2015 — 5:41 WIB
Buang Waktu dan Energi
Selasa, 19 Mei 2015 — 6:13 WIB
Dibikin Cantik
Selasa, 12 Mei 2015 — 6:00 WIB
Apa Iya?

Ekonomi Rakyat

Selasa, 8 April 2014 — 2:18 WIB
Menghitung
Selasa, 18 Februari 2014 — 13:35 WIB
Irit Listrik
Rabu, 15 Januari 2014 — 9:33 WIB
Maju Dengan Tempe
Selasa, 31 Desember 2013 — 9:50 WIB
Carmat Namanya…
Jumat, 4 Oktober 2013 — 9:53 WIB
Mudik dan PKL

Dul Karung

Sabtu, 27 Juni 2015 — 6:05 WIB
Bisa gak Lebaran, nih.
Sabtu, 20 Juni 2015 — 5:50 WIB
Harapan di Awal Puasa
Sabtu, 13 Juni 2015 — 6:01 WIB
Dul Mau Menulis Buku Dahlan
Sabtu, 6 Juni 2015 — 5:34 WIB
Menang, Kalah, Seri, Sujud Syukur Terus
Sabtu, 30 Mei 2015 — 5:40 WIB
Dul Itu Bukan Gelar