Friday, 16 November 2018

Jangan Sentuh Narkoba

Rabu, 25 Januari 2012 — 9:56 WIB

MELALUI rubrik ini lima hari lalu, telah diulas kian maraknya peredaran narkoba di Indonesia. Bahkan seperti kita ketahui bersama, hasil observasi Polda Metro Jaya, Jakarta telah memasuki lampu merah peredaran narkoba. Asumsi ini didasarkan kepada hasil penyelidikan yang mengindikasikan di setiap kelurahan terdapat tiga sampai empat pengedar narkoba.

Artinya peredaran narkoba sudah masuk ke perkampungan – perkampungan untuk menyasar semua lapisan masyarakat. Tidak saja golongan masyarakat yang memiliki kemampuan lebih sehingga dengan mudah mendapatkan narkoba. Masyarakat berpenghasilan rendah pun
sudah dijadikan sasaran para pengedar narkoba.

Tragedi  Minggu (22/1) di Jl M Ridwan Rais, dekat patung Pak Tani, Menteng, Jakarta Pusat mengingatkan kepada kita begitu bahayanya dampak peredaran narkoba. Akibat pengaruh narkoba, wanita pengemudi Xenia lepas kendali hingga menabrak 9 warga yang sedang berjalan kaki di trotoar.

Tanpa mendahului hasil penyidikan aparat kepolisian terkait rentetan peristiwa dan sebab musabab ‘Minggu berdarah’ itu, tetapi  publik sudah menduga bahwa mabuk narkoba sebagai awal penyebabnya.
Dari kasus ini memberi pelajaran kepada kita semua bahwa bahaya narkoba memang luar biasa, terutama bagi generasi penerus.

Menurut data Badan Narkotka Nasional (BNN) sekitar 32 persen dari pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Jika angka ini diterapkan di Jakarta dengan jumlah pengguna narkoba sekitar 800 ribu orang, maka dapat diasumsuikan lebih dari 200 ribu pengguna berstatus pelajar dan mahasiswa.

Angka ini memang baru bersifat prediktif, tetapi mengingat kasus narkoba bagaikan gunung es, maka boleh jadi jumlah pengguna narkoba lebih besar seperti yang diprekdisikan.

Melihat kenyataan ini kewaspadaan bagi orangtua harus tetap ditingkatkan. Ini tidak saja terhadap kerugian materi yang begitu besar, rata – rata miliaran rupiah dihabiskan untuk belanja narkoba. Ini baru di Jakarta.

Yang lebih penting adalah mencegah lebih buruk lagi dari sisi mental spiritual bagi generasi penerus jika sudah tercekoki narkoba apa pun jenisnya.

Ini tantangan bagi polisi untuk mencegah peredaran narkoba yang sudah demikian merasuk semua lini kehidupan. Sebab, Indonesia bukan lagi tempat transit peredaran, tetapi sudah menjadi target pemasaran karena konsumennya cukup besar dan harganya kian mahal.

Karena itu sistem pemidanaan sekiranya perlu dikaji lagi sebagai bagian dari upaya pemberantasan narkoba. Sudahkah proses rehabilitasi diberikan kepada semua pengguna narkoba dan telah memberikan efek jera? (*)