Saturday, 22 September 2018

Cerita Dari Beijing & Gong Xi Fa Chai

Kamis, 26 Januari 2012 — 11:55 WIB

MESKIPUN sudah terlambat tiga hari, penulis mengucapkan Selamat Tahun Baru China. Imlek atau Tahun Baru China tahun ini ditandai tahun shio Naga.

Sejak zaman dahulu, lebih-lebih setelah Indonesia memeluk ideologi Pancasila, pemeluk agama dan keyakinan bebas melakukan perayaan tahun baru. Rakyat Indonesia sesuai dengan keyakinannya masing-masing bebas merayakan tahun baru Islam, Natal dan Tahun Baru Masehi Hindu dan Budha, serta Tahun Baru China.

Tahun baru China kali ini jatuh pada tanggal 23 Januari. Tahun ini memang bagi warga keturunan China merupakan tahun istimewa karena jatuh pada shio Naga.

Oleh karena itu tidak mustahil, warna-warni perayaan ditandai dengan Naga serta lampion-lampion berwarna merah. Tidak ketinggalan, makanan jajan Imlek juga ramai dijual. Termasuk buah naga, omset bisa naik hingga 30 persen.

Naga adalah lambang kesentausaan serta keuletan. Lebih-lebih yang tergambar dalam Barongsai, ternyata terus ulet ketika untuk mengejar dan ingin mencaplok bola lampu yang terus bergerak, meskipun tidak kesampaian mencaploknya. Perlambang tersebut juga memberi makna pada upaya yang mencerminkan keuletan dan kerja keras.

Dilihat dari budaya China orang-orang Cungkok memang tidak pernah kenal lelah, untuk kerja keras. Ibarat bunyi ungkapan ”Bo Kang Bo Ciak” yang artinya ”Tidak kerja tidak makan,” ungkapan yang tepat untuk tahun Naga di mana memerlukan kerja keras di manapun dan kapanpun.

China yang sebelumnya adalah merupakan negara agak miskin, tetapi dengan keuletan pemimpin dan rakyatnya,  kini menjadi Raksasa  Ekonomi yang dikagumi dunia. Betapa tidak, karena kerja keras dan menggunakan sistem ”One Country Two System” China bangkit dari keterpurukannya. Hanya dalam dua dasa warsa China mampu menanggulangi perekonomiannya.

Produk-produk China telah menguasai dunia. Khususnya yang menyangkut garmen maupun makanan dan produk berat lainnya. Adapun ”kata dunia”, produk China juga membanjiri kawasan Asean, termasuk Indonesia. Apaun kwalitasnya produk China ternyata lebih murah dari produk lokal.

Baru-baru ini penulis memperoleh cerita dari Beijing yang disampaikan kawan ”fitnes” penulis, menceritakan bahwa ada seorang guru, anak Kyai, dari Madura yang akan berangkat kerja ke Beijing. Diwanti-wanti oleh ayahnya bahwa lebih baik jika cari isteri carilah orang Jawa atau orang Madura. Sang anak nekad kerja di Beijing. Dan setelah setahun, dia kawin dengan perempuan China, karena kesengsem kecantikannya.

Setelah dua tahun kerja di Beijing, pulanglah dia ke Madura, tentu saja dengan membawa isteri, Chinanya. Sampai di Madura, dalam tempo dua bulan saja, isterinya meninggal dunia, tanpa sebab musabab. Sang guru menangis tiada henti-hentinya.

Datanglah sang Ayah. Sebagai Kyai, ia memberi nasihat kepada anaknya yang terus-menerus menangis. Kata Si Kyai menasihati anaknya: ”Sudahlah jangan menangis dan jangan ditangisi. Kau tidak menurut dengan Bapak. Apa kata Bapak PRODUK DARI CHINA KAN TIDAK TAHAN LAMA.” Tiba-tiba anaknya berhenti menangis dan… tersenyum kecil.

Ada-ada saja cerita kawan kita itu. Sekali lagi: Selamat Tahun Baru China, Gong Xi Fa Chai.*