Thursday, 20 September 2018

Memaknai Penggerudukan Cikeas

Kamis, 26 Januari 2012 — 11:46 WIB

MAHASISWA sudah tak tahan merasakan beban negara yang terus-terusan dieksplorasi sebagai ladang korupsi. Seorang di antaranya nekat membakar diri di depan Istana Merdeka. Perjuangan  generasi penerus  kemarin berlanjut menggeruduk kediaman pribadi Presiden SBY di Cikeas, Bogor.

Walau perjalanan berhasil dicegah polisi sehingga tak sampai tempat tujuan, namun gerakannya memiliki makna yang pantas untuk mendapat perhatian kita. Aspirasi mahasiswa menyentuh subtansi permasalahan ekstra serius.

Aksi massa menamakan diri Gerakan Rakyat untuk Duduki Cikeas alias Geruduc itu, menuntut  agar fasilitas dan gaji SBY distop. Sebagai presiden, dianggap mereka  tidak mampu menunaikan tugas sebagaimana mestinya.

Permasalahan hampir serupa menjelang lahirnya gerakan reformasi.  Kita masih ingat kala itu korupsi merajalela di lingkaran terdekat presiden, tapi tak tersentuh hukum karena kokohnya sistem kekuasaan.

Mahasiswa turun ke jalan, sebagian tewas dan babak belur. Meski begitu perjuangannya tetap berkobar dan berhasil melengserkan Presiden Soeharto.  Atmosfir serupa kembali menguat.

Sederet nama orang  dekat penguasa tanpa kecuali dari Partai Demokrat di depan majelis hakim terungkap terlibat korupsi. Julukan Ketua Besar atau Bos Besar bercincai-cincai apel Malang  dan apel AS sebagai istilah permintaan uang pelicin proyek dibiayai anggaran negara, sudah menjadi fakta pengadilan.

Begitu pula dugaan mark-up anggaran proyek-proyek  di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR melibatkan Ketua Badan Urusan Rumah Tangga Marzuki Alie, makin muakkan publik. Kewibawaan lembaga perwakilan ini di mata rakyat sudah runtuh.

Permasalahan kita fokuskan pada sejauh mana kemauan politik Presiden SBY  memimpin pemberantasan korupsi?

Menurut hemat kita, SBY layak  mencopot kedudukan orang-orang di lingkungannya yang cacat moral dengan asumsi tak ada maling mengaku maling. Memetik  pembelajaran dari kasus mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazarddin,  setelah dipecat justru membongkar misteri korupsi  luar biasa dahsyat. Proses hukum positifnya tentu menjadi kewenangan majelis hakim.

Kemauan politik setingkat itu  yang dapat kita maknai dari aspirasi gerakan mahasiswa kepada SBY hingga berusaha menggeruduk Cikeas. Relevansinya kuat karena  pemerintahan sekarang  lahir dari sistem kekuasaan anti-KKN  hasil perjuangan mahasiswa.***