Tuesday, 25 September 2018

“Gratifikasi” Untuk Istri

Jumat, 27 Januari 2012 — 0:43 WIB
nah-26jan12

Andaikan Ny. Hernita, 30 (bukan nama sebenarnya), seorang pejabat negara, terima gratifikasi sudahlah jamak. Tapi dia yang hanya ibu rumahtangga biasa kok dapat hadiah sepeda motor dari Pak Kades, pasti ada apa-apanya. Ternyata, sepeda motor itu sebagai imbalan, karena Hernita telah membantu Kades menjadi medan penyaluran nafsunya!

Tiap Kepala Desa (Kades) memang punya cara sendiri untuk menggerakkan rakyatnya berpartisipasi dalam pembangunan wilayah. Ada yang lewat penyuluhan, ada pula yang dirangsang lewat sebuah hadiah. Misalnya, warga yang tak pernah telat bayar PBB diberi hadiah kompor gas, atau dispenser. Bisa pula karena jadi pelopor lingkungan, lalu diberinya hadiah TV 17 inc.

Istri Hasim, 40 (bukan nama sebenarnya), warga Teluk Kayuputih, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo Provinsi Jambi: tiba-tiba dikirimi sepeda motor Yamaha Mio baru, lengkap dengan STNK dan BPKB atas nama Ny. Hernita. Para tetangga pun menduga, mungkin dia dapat hadiah “gebyar ini itu” yang biasa dikampanyekan lewat SMS tak dikenal. “Mujur banget dia, ya? Dapat hadiah beneran, bukannya malah uangnya di bank habis dikuras,” kata para tetangga.

Keheranan itu ternyata bukan saja menghinggapi warga, tapi juga Hasim suami Hernita sendiri. Soalnya, bulan Desember sudah lewat lama, kok ada “sinterklas” memberi hadiah sepeda motor? Ketika ditanyakan pada istri, ternyata dijawab bahwa itu pemberian dari Pak Hakim, Kades Teluk Kayuputih. Makin heran saja lelaki ini. Ada apa Pak Kades begitu royal pada warganya? Karena istrinya juga bukan aktivis PKK, ikut kegiatan Posyandu dan Jumantik juga jarang-jarang.

Awalnya Hernita mengaku itu sekedar pemberian biasa saja, tak ada motif dan gratifikasi apa pun. Tentu saja Hasim menjadi makin curiga. Kok royal amat Pak Kades hambur-hamburkan uang desa untuk warga. Apa dia mau niru Sekjen – BURT DPR, yang bikin ruang rapat Banggar senilai Rp 20 miliar lebih? “Ngaku saja terus terang, apa maksudnya Kades Hakim memberimu motor.” Desak Hasim dengan nada marah.

Hasim kalau marah memang begitu. Matanya melotot, tangan mengepal, siap menswing dagu istrinya. Daripada gagal menikmati motor baru karena digebuki suami, akhirnya mengaku sajalah dia. Sambil menangis Hernita bilang bahwa Pak Hakim adalah KTM-nya. Apa itu KTM? Ternyata kepanjangan: Kades Tapi Mesra, alias teman selingkuhnya selama ini.

“Apa? Kamu dikasih motor karena memberikan tubuhmu padanya? Haram jadah!” maki Hasim merepet-repet. Pantesan ada warga yang pernah menginformasikan bahwa istrinya pernah jalan bareng dengan Pak Kades. Ternyata ini to latar belakangnya.

Kontan sepeda motor itu dikembalikan ke rumah Pak Kades. Untung saja yang bersangkutan tak ada di rumah. Jika ada, bisa terjadi “revolusi” di Desa Teluk Kayuputih.

Yang bersangkutan memang belum berhasil dikonfirmasi oleh Hasim. Tapi pengakuan istri sudah dianggapnya cukup untuk melaporkan perselingkuhan itu ke Bupati Tebo. Tuntutannya tidak banyak. Hasim hanya minta Pak Kades itu dipecat dari jabatannya, karena berani mengganggu bini warganya. “Saya akan tetap pisah ranjang sebelum Kades itu ditindak,” kata Hasim penuh semangat.

Urusan ranjangnya lalu ke mana? (JPNN/Gunarso TS)