Wednesday, 19 September 2018

Tidak Melaut, 14 Ribu Nelayan Terjerat Utang

Jumat, 27 Januari 2012 — 0:17 WIB
ilustidak

SERANG (Pos Kota) – Cuaca buruk berupa gelombang tinggi disertai angin kencang barat melanda kawasan perairan Selat Sunda dan sekitarnya. Akibatnya, ribuan nelayan tradisional di wilayah tersebut tidak melaut seiring peringatan bahaya yang diedarkan oleh aparat setempat.

Kehidupan 14 ribu Kepala Keluarga (KK) nelayan mengalami kesulitan dan mulai terjerat utang. Pasalnya, para nelayan tidak bisa melaut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Banten, Sabra Wijaya, sekitar 14 ribu KK nelayan di Banten mengalami paceklik. Para nelayan tersebut tersebar disejumlah daerah seperti di Kabupaten Serang, Pandeglang dan Kota Cilegon. “Sudah hampir 3 minggu nelayan di Banten tidak bisa melaut akibat cuaca buruk,” kata Sabra.

Ia menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, nelayan terpaksa menguntang dengan pemilik kapal atau dengan koperasi. Hutang tersebut akan dibayar, setelahnya nelayan kembali melaut. Namun tidak sedikit dari mereka yang terpaksa meminjam uang kepada rentenir.

“Seharusnya pemerintah bisa memberikan alternatif lain seperti mengoptimalkan budi daya perikanan sehingga menjauhkan nelayan dari hutang,” katanya.

Sabra mengaku, hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah, untuk meringankan beban nelayan. Nelayan, kata Sabra, hanya mengandalkan uang yang didapat dari menghutang dan program beras miskin (raskin) yang diterima setiap bulannya.

“Pemerintah Provinsi maupun kabupaten belum memberikan bantuan kepada nelayan. Bantuan yang selama ini diterima oleh nelayan adalah bantuan rutin raskin sebanyak 15 kg setiap bulannya,” katanya.

Sabra berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada nelayan, untuk meringankan beban nelayan yang terserang paceklik. Yaitu mencari jalan keluar, untuk menghadapi musim paceklik seperti saat ini. “Salah satunya adalah dengan menyediakan kapal yang besar, yang memiliki ketahanan terhadap gelombang tinggi. Sehingga nelayan bisa tetap melaut,” katanya.

Harapan serupa juga disampaikan Wasito salah satu nelayan Labuan, Pandeglang, yang meminta perhatian dari pemerintah untuk bisa memberikan pinjaman lunak bagi para nelayan. Sehingga, pada musim paceklik saat ini nelayan yang tidak melaut bisa memenuhi kebutuhannya. “Kalau ada pinjaman lunak, mungkin nelayan bisa membuka warung atau budidaya kerang, rumput laut atau usaha lainnya yang tidak bergantung dengan cuaca,” katanya.

(haryono/sir)