Friday, 21 September 2018

Jalan Raya ke Akhirat

Minggu, 29 Januari 2012 — 14:40 WIB

Oleh S Saiful Rahim

TIDAK ada orang yang tidak bertanya-tanya, setidak-tidaknya di dalam hati, melihat Dul Karung masuk ke warung kopi Mas Wargo hari itu. Seperti biasa, dia masih memberi salam dengan fasih ketika berada di ambang pintu. Dan, juga seperti biasa, dia mencomot sepotong singkong goreng sebelum melemparkan bokongnya ke salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang yang hanya ada satu di warung tersebut. Yang tidak seperti biasa, dan ini yang membuat mereka yang ada di warung bertanya-tanya, Dul Karung masuk dengan kepala berhelm dan mengenakan jaket tebal yang bagai perisai.

“Dandananmu aneh betul Dul. Kayak makhluk penghuni planet yang belum ditemukan,” kata Mas Wargo dengan mengulum senyum sambil mengaduk kopi susu pesanan seseorang.

“Planet apa yang belum ditemukan itu, Mas?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Planet yang belum ditemukan kok kautanyakan namanya. Jangankan Mas Wargo yang hanya tukang kopi kaki lima, pakar angkasa luar pun takkan mampu menjawab pertanyaanmu,” komentar orang yang memesan kopi susu seraya menerima gelas berisi pesanannya yang disodorkan Mas Wargo.

“Aku dandan seperti ini demi menjaga keselamatan. Kalian tahu? Jalanan di Jakarta sekarang sudah seperti jalan raya ke akhirat. Kian besar jalan itu tambah besar pula peluang mengantar kita ke akhirat.

Pada hari kerja angkutan kota kebut-kebutan berebut penumpang. Mobil pribadi juga saling sodok ingin buru-buru sampai ke tempat kerja. Prinsip mereka waktu adalah uang. Pada hari libur, karena pengemudi kantor tidak bekerja, mobil disetir sendiri oleh sang bos yang tentu saja tidak trampil karena jarang menyetir. Apalagi kalau dia mengantuk karena malamnya habis begadang menghabiskan malam libur. Atau jebih jahanam lagi kalau malamnya dia habis mabuk-mabukan atau ngeboat. Contohnya Afriyanti, sekali tabrak belasan orang korbannya.

Dengan berpakaian seperti ini aku merasa lebih aman daripada berdandan biasa-biasa saja,” jawab Dul Karung panjang lebar dan tampak yakin.

“Tapi kalau sudah di dalam ruangan seperti ini sebaiknya kostum makhluk planet yang belum ditemukan itu dicopot. Di sini kan tidak ada bahaya lagi. Nyaris mustahil bisa ditabrak,” kata orang yang duduk tepat di sebelah Dul Karung.

“Oke, mustahil ditabrak mobil. Tapi potensial ketiban kalau warung kopi ini roboh. Musim hujan dengan angin puting beliuang seperti sekarang adalah musim bangunan roboh,” jawab Dul Karung sambil menyeruput teh manis.

“Kudengar Organda punya rencana melatih sopir-sopir bis. Mereka akan bekerja sama dengan NEA, lembaga pelatihan pengemudi dari Negeri Belanda. Menurutku itu upaya yang baik untuk membentuk mental pengemudi santun dan taat aturan,” kata Mas Wargo, entah dari mana dia mendengar kabar baik itu.

“Tapi menurutku yang harus dibenahi bukan hanya pengemudi, tapi juga sistem untuk mendapatkan SIM. Sekarang kan kalau orang bisa injak rem dan gas saja sudah bisa memperoleh SIM. Karena ada calo yang akan mengaturnya. Para penegak hukum lalu lintas, entah polisi atau siapa pun mereka, hendaknya benar-benar menertibkan hukum. Mereka harus merasa bila hukum dan aturan lalu lintas diremehkan, itu sama saja dengan meremehkan mereka,” kata Dul Karung sambil melangkah meninggalkan warung.

Orang-orang pun kembali terheran-heran. Kali ini bukan karena dandanan Dul Karung, melainkan ucapannya yang seperti orang mabuk( syahsr@gmail.com )