Wednesday, 12 December 2018

Waspadai Pandangan Hampa

Senin, 30 Januari 2012 — 13:29 WIB

GENG motor di Bandung terkenal brutal.  Mereka bukan hanya mengganggu ketenangan di jalan raya,  tapi juga merampok dan membunuh orang yang tak disukai.

Kemarin, dua anggota geng dari Kota Kembang mengendarai Honda Supra D 4204 EF meluncur ke satu rumah warga Meruya Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Berlagak mau membeli  motor Honda CBR yang diiklankan, pelaku membacok pemilik karena tidak ada kecocokan harga.

Di lingkungannya perbuatan tersebut dianggap lumrah. Bahkan ada kebanggaan bagi yang berani merampok atau membunuh orang yang menghalang-halangi keinginannya. Lantaran itu kita menggaris-bawahi untuk mendapat perhatian khusus.

Mereka pikir dirinya itu siapa? Dari jauh, ujug-ujug mendatangi  Meruya Utara dan berbuat seenaknya. Kita di Jakarta, seujung rambut pun tak rela dijadikan obyek kebrutalannya. Sesama warga Parahyangan saja, sudah sekian lama muak.

Di Bandung ada ribuan anggota geng motor. Pada akhir September 2011, di antara mereka terlibat pengeroyok dua mahasiswa. Korban berulang-ulang ditabrak lalu dicaduk dengan pecahan botol bekas minuman keras. Satu korban tewas dan satu lainnya sekarat.

Penyakit sosial yang melanda kaum muda itu tidak boleh dianggap enteng.  Keberadaan mereka serupa dengan kelompok warga yang suka tawuran antar-sesama di  kota kita. Prilaku mereka harus segera diakhiri secara sistemik.

Menurut hemat kita, fenomena geng motor maupun tawuran antar-warga adalah bersumber dari carut-marutnya penegakan hukum.  Berimplikasi mewabahnya pandangan hampa ke masa depan dan menimbulkan solidaritas semu. Orang yang bertolak-belakang dengan kepentingan mereka dianggap sebagai musuh bersama.

‘Virus’ sejenis menyulut  konflik sosial di sana-sini. Misalnya saja yang sedang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Massa yang frustasi ngamuk membakar kantor bupati setempat.

Banyak elit di pucuk kekuasaan terlena. Sebagian hanya kompak merampok harta negara. Pada tempat beda justru prilakunya saling sikut dan  saling tendang memperebutkan kursi jabatan. Seberapa lama bangsa ini mampu bertahan mengadapi kekacauan di jalanan hingga panggung politik?

Wajar, kalau kita mewaspadai dampak akumulasi kehampaan pandangan massa. Tidak menutup kemungkinan menjadi sumber gejolak beskala nasional.  Apalagi Pemilu 2014 sudah makin dekat.

Setiap gejala perubahan sosial negatif, meski terjadi  pada tingkat lingkungan patut dicermati. Khususnya jika bagian dari matarantai peristiwa pada tempat lain, seperti  kejahatan geng motor dari Bandung di rumah warga Meruya Utara itu. ***