Sunday, 18 November 2018

Senjakala Bisnis Ngintip Cewek Telanjang di Amsterdam

Kamis, 2 Februari 2012 — 12:56 WIB
peep-show3

AMTERDAM (Pos Kota) – Peepshow atau mengintip pertunjukan porno dari balik jendela hampir tamat. Selama puluhan tahun pertunjukan serupa ini menjadi daya tarik publik de Wallen, nama bilangan lampu merah di Amsterdam. Kini, hanya tersisa satu peepshow. Apa yang terjadi dengan hiburan erotis klasik ini?

Dasar peepshow ini sederhana dan universal. Seorang perempuan telanjang atau berpakaian minim di atas sebuah meja yang berputar. Meja ini dikelilingi jendela-jendela, di baliknya terdapat kamar-kamar. Setelah memasukkan koin sebanyak 2 euro, jendela akan terbuka dan pengunjung dapat melihat aksi perempuan tersebut selama beberapa menit.

Peepshow pertama dibuka di Amsterdam pada akhir tahun 1960-an. Ternyata, fenomena ini sukses. Di masa kejayaannya, terdapat enam peepshow di Amsterdam. Setengahnya adalah milik Jan Otten yang telah 35 tahun aktif sebagai pengusaha seks komersil.

“Raja” de Wallen ini adalah pemilik peepshow terakhir di Amsterdam. Menyandang nama “Sex Palace” yang berusia hampir 30 tahun, dengan lokasi Oudezijds Achterburgwal, pusat Red Light District Amsterdam.

Salahsatu gedung pertunjukan ngintip cewek telanjang (peepshow) di Amsterdam . Kecanggihan Internet  kini menggusurnya.

GARA-GARA INTERNET

Otten menjelaskan: “Sebelumnya saya memiliki tiga bisnis peepshow. Yang terbesar di Nieuwendijk di pusat kota dekat bursa efek. Dari bisnis ini saya meraup banyak keuntungan. Khususnya para pedagang saham sering ke peepshow di sela-sela jam istirahat mereka. Namun, pihak kotamadya Amsterdam tidak menyukainya. Jadi, lokasi peepshow berangsur-angsur pindah ke de Wallen. Meskipun begitu, pemindahan dilakukan dengan baik.”

Di daerah Red Light District, peepshow juga perlahan-lahan menghilang. Otten (69) menyalahkan kebijakan kotamadya yang sibuk menata kembali bilangan ini. Pihak kotamadya Amsterdam ingin “membersihkan” de Wallen. Beberapa tahun belakangan, mereka telah menutup 100 dari 500 tempat  prostitusi.

“Namun, pengunjung peepshow memang berkurang. Bisnis ini di Amsterdam hampir mati. Ini juga berkaitan dengan penggunaan internet. Sekarang anda bisa diam-diam melihat porno di rumah. Untuk bisnis seks, hal ini amat disayangkan,” tukas Otten.

WISATAWAN INGGRIS

Kamis siang, situasi di “Sex Palace” sangat sepi. Dua wisatawan Inggris dan sebuah rombongan keluarga dari Jepang berkeliling sambil melihat-lihat. Pojok-pojok yang menyajikan film porno hampir semuanya kosong.

Di bagian peepshow, hanya perempuan nomor empat yang sedang bekerja, tapi sebagian besar jendela tertutup. Meski begitu, menurut Otten, peepshow terakhir di Amsterdam berjalan cukup baik. “Terutama pada akhir pekan, ada banyak wisatawan Inggris,” tambahnya.

Menurut Otten, lesunya bisnis ini fenomena internasional. Otten mengungkapkan: “Di Antwerpen, semuanya tutup. Begitu juga di Hamburg. Dulu, ada lima bisnis peepshow di Barcelona. Sekarang, cuma tersisa satu. Hal ini merugikan para perempuan pekerja peepshow. Mereka kerja di sini dua minggu, di sana dua minggu dan begitu seterusnya mereka berkeliling Eropa. Ini sengaja kami lakukan untuk para pelanggan tetap, supaya mereka bisa terus melihat wajah-wajah baru.”

TARIAN EROTIS

Apakah lesunya bisnis peepshow merugikan Amsterdam? Otten memandangnya dari kacamata bisnis dan mengesampingkan pendapat pribadi.

“Masih banyak hal lainnya di de Wallen, misalnya theater seks Casa Rosso dan Bananenbar yang juga milik saya. Peepshow di sini masih jalan. Jadi akan saya pertahankan. Kalau bisnis ini tidak menguntungkan lagi, saya ubah menjadi bar tarian erotis saja,” kata Otten.
Lima tahun lalu, peepshow masih hangat diberitakan di Belanda. Ketika itu hakim memutuskan bahwa pertunjukan ini bisa digolongkan  “kebudayaan” Belanda dan karenanya dikenakan pajak rendah. Dengan demikian, para pebisnis seks hanya membayar pajak sebesar enam persen, dan bukan 19 persen. Namun kini, kabinet telah menaikkan tarif pajak sektor budaya menjadi 19 persen. (RNW/dms)