Sunday, 16 December 2018

Maulid Nabi & Nurwahid, Sumarno, Syarif Rahmad

Kamis, 9 Februari 2012 — 11:27 WIB

Oleh Harmoko

BIASANYA hari Sabtu penulis pergi ke daerah-daerah memenuhi undangan seminar, diskusi pertemuan yang sifatnya silaturachim. Tetapi Sabtu minggu yang lalu tepatnya tanggal 4 Januari penulis berada di Jakarta dan bertandang ke rumah teman lama di daerah Pasar Minggu.

Sengaja penulis datang setelah sholat Dzuhur. Teman saya baru di depan TV dengan asyiknya. Begitu penulis datang, kata teman saya menyambut dengan ramah: ”Lama tidak jumpa, kebetulan ada siaran TV-One tentang Damai Indonesiaku”. Begitu saya duduk, oleh isterinya diberi nasi uduk, sambil makan nonton siaran Damai Indonesiaku.

Terus terang saya sesekali nonton siaran ”Damai Indonesiaku”. Tapi siang itu sangat menarik karena acaranya adalah menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Teman saya dengan asyik menyimak acara tersebut. Sehingga kedatangan penulis di rumahnya seakan dinomor-duakan.
Betul juga dugaan penulis, karena teman saya tiba-tiba mengucap dengan matanya masih memandang pada layar kaca televisi:

”Maaf, Bung, Saya sedang asyik nonton. Isi ceramahnya bagus-bagus, jadi maaf sekali lagi maaf, kalau Bung saya nomor duakan. Mari sama-sama kita simak isi peringatan Nabi Besar Muhammad SAW.” Penulis mengangguk.

E, benar juga teman saya. Acara Maulid Nabi itu menampilkan penceramah H. Nurwahid, Mantan Ketua MPR, Ustad K.H. Sumarno Syafei, penampilan tubuhnya kurus tinggi (Mengingatkan penulis pada sutradara Wildan Jaffer), dan ketiga adalah Ustadz K.H. Syarif Rahmad, anak muda dengan baju busana seperti Sunan Kalijaga. Masa depannya akan cerah.

Inti ceramahnya adalah mengingatkan kepada umat untuk senantiasa meneladani akhlak dan moral Nabi Besar Muhammad SAW. Tentu penampilan dari tiga penceramah dan nara sumber itu menggunakan bahasa terang dengan contoh-contoh yang jelas, juga melakukan kritik-kritik yang tajam tetapi membangun pada situasi dan keadaan negara Indonesia yang carut marut. Kritik-kritik yang tajam tersebut sungguh mengenai sasaran. Itulah yang disebut kritik konstruktif.

Penulis dan teman saya sambil nonton asyik menikmati cemilan kacang rebus dan pisang rebus. Tidak terasa karena acara tersebut selesai hampir pukul tiga sore. Begitu selesai siaran saya berdiri hendak ke kamar kecil. Ee, ternyata dibelakang kursi dan meja kami telah duduk di lantai banyak orang yang ikut nonton TV, mereka adalah tetangga-tetangga dan juga anak-anak muda teman anaknya.

Kesimpulan teman saya: Wah, asyik juga acara TV-One. Teman saya mengusulkan agar tayangan tersebut bisa diulang-ulang. Dan kalau perlu TV-One dapat membuat penggandaan CD atau DVD untuk dijual.

Saya bilang pada teman saya: ”Semoga harapanmu bisa didengar oleh pemilik TV-One atau setidak-tidaknya didengar oleh Bung Karni Ilyas sebagai Pemimpin Redaksi.

Kami melanjutkan ngobrol macam-macam soal hingga pukul 5 sore. Penulispun minta permisi pulang. Semoga hal itu ada nilai tambah buat semuanya. Selamat merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW!