Thursday, 20 September 2018

Berwisata Sambil Arung Jeram di Sukabumi

Minggu, 12 Februari 2012 — 6:07 WIB

MAU berwisata sambil uji nyali? Cobalah pilih kegiatan arung jeram. Di daerah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terdapat sejumlah obyek wisata yang sekaligus menawarkan kegiatan arung jeram yang mengandalkan keberanian ini. Salah satunya di Sungai Citatih.

Setiap minggu, kawasan wisata tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.  Salah satunya adalah rombongan kami, wisatawan lokal yang tergabung  dalam komunitas wartawan FORWARA (Forum Wartawan Kesra),sehari-hari meliput kegiatan di kantor Menteri Agung Laksono, Kementerian Koordinator Bidang Kesejateraan Rakyat.  Forwara sengaja memilih lokasi outbound dengan kegiatan arung jeram di Sungai Citatih, akhir tahun 2011 lalu.

Sebelum turun ke sungai dan memulai kegiatan arung jeram, semua peserta diharuskan menggunakan berbagai peralatan khusus. Antara lain helm, pelampung, dayung. Peralatan ini tersimpan di sebuah tempat khusus berupa saung. Bagi yang tidak membawa celana pendek dan sandal, bisa membeli di lokasi. Harganya terjangkau: celana pendek Rp.30.000,- dan sandal pendaki gunung Rp.30.000 – 50.000,-

Setelah peralatan diambil dan dikenakan oleh masing-masing peserta, kemudian semuanya berjalan kaki dan diarahkan oleh pemandu menuju ke sebuah sungai yang berada di bawah sebuah jembatan gantung.  Jembatan ini bisa dilintasi mobil angkot. Hanya saja harus bergantian mengingat berat tonase kendaraan. Karena namanya saja jembatan gantung, ya sesekali terasa kita ikut bergoyang saat kendaraan melintasinya.

Sementara di bawah jembatan gantung ini, mengalir deras air sungai Citatih. Sedang hulunya terdapat Sungai Citarik, tempat arung jeram dengan rintangan yang lebih berat. Kedua aliran sungai ini kemudian bermuara ke laut melintasi obyek rekreasi Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi.

Jaraknya dari tempat pengambilan peralatan arung jeram tadi ke sungai di bawah jembatan gantung, berjarak sekitar 500 meter. Di tempat ini sudah menunggu sejumlah perahu karet yang di tambatkan di sungai, dikawal oleh sejumlah tenaga pemandu yang siap mengantar melewati derasnya arus sungai Citatih.

DIAJAR CARA MENDAYUNG

Di depan peserta arung jeram, pemandu juga memberi pengarahan soal penggunaan peralatan. Bagaimana cara memasang helm, pelampung, dan memegang dayung.  Juga ada aba-aba atau kode khusus dari pemandu. Misalnya, ketika pemandu memerintahkan “maju”, artinya semua penumpang di atas perahu karet harus mendayung dari arah depan ke belakang.

Perintah “mundur”, peserta harus mendayung berlawanan dengan perintah “maju” tadi. Yakni dari belakang ke depan. Perintah “stop” artinya harus berhenti mendayung dan peralatan dayung harus diletakkan di atas paha dengan posisi vertikal (melintang). Kalau mau memutar, tinggal mendengar komando berikutnya.

Kalau komandonya memerintahkan “Kiri” itu berarti yang penumpang yang berada di sebelah kiri harus mendayung dari arah belakang ke depan. Begitupun bila dapat komando “kanan”, itu artinya sebaliknya. Pengarahan singkat ini, diberikan beberapa menit. Semua peserta nampak serius mendengarkan.

Pengalaman yang menegangkan, sempat terjadi ketika ada perahu peserta yang terbalik dan penumpang panik. Menurut cerita Tito Setiawan, Kepala Bagian Humas Kemenko Kesra ini,  insiden ini terjadi begitu cepat saat empat perahu karet saling berkejaran. Perahu pertama melaju di antara bebatuan dan kisaran arus air sungai. Tiba-tiba perahu kedua menabrak batu, lalu dari arah belakang menyusul perahu ketiga menabrak perahu kedua disusul perahu keempat muncul dari samping, dan tidak bisa terkendalikan hingga terguling.

Semua penumpangnya tumpah ke sungai, lalu perahu menimpah mereka sehingga terkurung di dalam rongga perahu yang sudah dalam posisi terbalik. Singgih, salah seorang penumpang menuturkan, tadinya ia mau mengikuti jalannya arus air Sungai Citatih yang cukup deras dan penuh batu-batu itu, tapi dalam perjalanan perahu karet yang ia tumpangi tergelincir dan terbalik.

“Saat kecelakaan tersebut itulah, ia ditolong oleh perahu karet dari  rombongan sekuriti Wisma Nusantara. Alhamdulillah berhasil membalikkan kembali perahu kami. Untungnya, saat Perahu terbalik, masih ada rongga untuk bernapas,” kata Singgih. Begitu berhasil keluar dari rongga perahu yang terbalik,  keempat penumpangnya berusaha “berenang” ke tepi dengan bantuan alat pelampung.

Selesai mengikuti kegiatan arung jeram, masing-masing peserta menerima sertifikat dari pengelola sebagai bukti bahwa pernah mengikuti kegiatan arung jeram. Tentu saja, tidak disebutkan di dalam sertifikat kalau di antara kami, ada yang perahunya terbalik dan penumpangnya tumpah ke sungai. hahaha…..

(aliem/t/sir)

Teks Gbr-Peserta arung jeram menggunakan perahu karet melintasi sungai Citatih, Sukabumi. (aliem)

  • Guru2 dan Ortu TK Paud Raihan

    Mengasyikkan dan menegangkan ceritanya, mau coba juga ah…