Sunday, 23 September 2018

Jeremy Huang, Pengamat Sosial

`Banyak Juga Hidup Melarat’

Rabu, 15 Februari 2012 — 9:30 WIB
jerremy

DI SAAT sebagian warga keturunan yang berada di Indonesia, khususnya di Cirebon, punya peran besar dalam perkembangan roda perekonomian, ternyata di sisi lain ada sebagian warga keturunan justru berada pada posisi “termarginalkan” dari sisi ekonomi. Mereka hidup di kampung-kampung yang jelas jauh dari kehidupan yang berkecukupan.

Kebanyakan mereka bekerja serabutan dan hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Khusus terhadap orang-orang seperti ini, mereka tidak bisa menyisihkan uang (menabung) karena pendapatan mereka hanya bisa untuk makan sehari-hari saja. Pekerjaan mereka ini ada yang sebagai tukang becak dan buruh bangunan.

Perbedaan yang begitu signifikan itu membuat Jeremy Huang, pengamat sosial ini merasa prihatin. Hal itu menurut Jeremy terjadi karena belum adanya perhatian yang serius dari warga kalangan Tionghoa yang lain, hingga kemudian mereka “terbiarkan” hidup dalam kesusahan. “Sebagai seorang warga Tionghoa, saya cukup prihatin melihat kondisi yang demikian itu,” katanya.

MOMENTUM IMLEK & CAP GO MEH

Jeremy memang tak memungkiri tentang kondisi sebagian warga keturunan yang kondisinya menprihatinkan tersebut. Dia berharap kehidupan para saudaranya itu ke depannya bisa lebih baik lagi dari sekarang. Karena biar bagaimana pun juga keberadaan mereka merupakan sebahagian dari warga keturunan. “Saya berharap mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan layak. Dalam kondisi seperti ini sebenarnya mereka memerlukan perhatian, sehingga bisa mandiri dan lepas dari ketermarginalan,” tegas Jermy Huang.

Momen Imlek dan Cap Go Meh, menurut lelaki yang kerap mengenakan topi ini, saat ini paradigmanya peringatan Imlek dan Cap Go Meh sudah saatnya diarahkan untuk memperhatikan keberadaan kaum Tionghoa yang saat ini berada pada kondisi miskin. Jeremy berkeyakinan, mereka yang miskin papa itu hanya bisa melaksanakan tradisi dan penghormatan budaya saja, jauh dari euporia kegembiraan. “Harusnya mereka-mereka itu bisa sejajar dalam kegembiraan dengan kaum Tionghoa lainnya. Yang ada saat ini mereka tetap termarginalan,” paparĀ  Jeremy.

Di tahun Naga Air ini , lanjut Jeremy, siapa pun orangnya jelas punya sebuah pengharapan kehidupan yang lebih baik, termasuk kaum Tionghoa yang dilanda kemiskinan. Dan Jeremy pun berharap apa yang dicita-citakan tersebut dapat tercapai sesuai yang diinginkan, sehingga mereka dapat hidup layak sebagaimana orang kebanyakan.

(darman/g)

Teks Gbr- Jeremy Huang, pemerhati sosial.(darman)