Saturday, 20 October 2018

Sepakbola Indonesia Tertinggal 10 Tahun

Rabu, 15 Februari 2012 — 2:36 WIB
ilussepakbola

JAKARTA (Pos Kota) – Sepakbola Indonesia tertinggal 10 tahun sejak terakhir kali meraih medali emas SEA Games 1991 Filipina. Penyebabnya, faktor pelatih yang ada di semua level klub tidak memiliki kualitas internasional.

Hal itu diungkapkan Anggota Komite Strategis PSSI, Sarman Panggabean kepada Pos Kota, Selasa (14/2) sore. Komite yang bertugas memonitor pemain dan pelatih Timnas PSSI, sudah menyelesaikan tugas memonitor pemain sejak 2011, termasuk pemain Timnas U-17 Indonesia yang menjuarai HKFA Tournament Hongkong 2012, Januari lalu.

Hasil monitoring mereka terhadap pemain menunjukan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kecepatan, punya tubuh bagus tinggi-tinggi, kemampuan attacking (menyerang) namun tak ditopang taktik yang baik dari pelatih.

Karena itu, observasi yang hingga kini masih memantau pelatih di berbagai daerah dan klub, menunjukkan kesimpulan sementara bahwa kurangnya kemampuan teknik pemain disebabkan pelatih. “Pelatih tidak mampu mentransfer teknik yang baik kepada pemain, seperti mengontrol dan memindahkan bola dalam kecepatan tinggi sekaligus menjauhkannya dari pemain lawan,” kata mantan pemain Timnas Indonesia 1967-1979 itu.

Untuk itu, Tim Monitoring, Evaluasi dan Strategi Teknis PSSI dalam waktu dekat akan merekomendasi kepada PSSI untuk dilakukan penyegaran pelatih, khususnya pelatih tim nasional di semua level. “Bisa saja yang menjadi instrukturnya Timo Scheuneman (Jerman) atau Bernt Ventura (Belanda),” kata Sarman.

Pelatih di berbagai klub sepakbola Indonesia, baik di level 1 profesional maupun amatir, kerap terpengaruh pola 4-4-2 yang long passing (bola panjang). Padahal, hal itu tidak cocok dengan pemain lokal sehingga pemain-pemain Indonesia tidak mampu berkembang.

Karena itu, Sarman dkk. bertekad mengembalikan kejayaan sepakbola nasional seperti pencapaian pada Asian Games 1986 di Seoul yang lolos ke babak semfinal, serta SEA Games 1987 Jakarta dan SEA Games 1991 Filipina yang merebut medali emas. Menurut Sarman, sepakbola Indonesia harus kembali dengan pemain tiki taka dengan bola-bola pendek, cepat dan rapat serta menyerang.

Menurut mantan gelandang Timnas senior Indonesia itu, pemain nasional tidak memiliki kemampuan bertahan yang baik. Karena itu, jalan terbaik yang harus dilakukan adalah membentuk tim dengan karakter menyerang. “Ini pernah menjadi perdebatan dengan korps pelatih beberapa waktu lalu,” kata Sarman.

Untuk menjadikan pemain Indonesia memiliki karakter menyerang, harus dimulai dari yunior, yakni U-17. Hanya saja, ada hal yang masih mengganjal karena perbedaan pola yang diinginkan Timo dengan Bernt Ventura, sebagai pelatih usia muda PSSI.

“Timo menginginkan pola 4-4-2 ala Inggris, sedangkan Bernt dengan pola 4-3-3 ala Belanda. Saya kira pola 4-3-3 sangat cocok untuk pemain Indonesia, sedangkan 4-4-2 ala Inggris dengan long pass (bola panjang), bukan karakter pemain kita. Tetapi, perbedaan itu bisa diatasi asalkan pola 4-4-2 tersebut dijalankan dengan bola-bola pendek,” kata Sarman Panggabean.(ian/b)