Sunday, 18 November 2018

Kebersamaan Sakral Saat Cap Go Meh

Tionghoa Cirebon Dari Tukang Becak Hingga Legislatif

Rabu, 15 Februari 2012 — 9:21 WIB
cap-go-sub

KAUM Tionghoa dinilai kalangan yang punya kemampuan finansial yang mumpuni. Di Cirebon bahkan  juga di daerah lain, terutama dari sisi pelaku ekonomi, memang kebanyakan keturunan Tionghoa yang dinilai sukses. Memang tidak ada data konkret dan pasti mengenai seberapa banyak jumlah pelaku usaha yang berasal dari warga keturunan satu ini. Namun secara kasat mata posisinya mendominasi hampir disetiap jenis perdagangan.

Jika milirik jumlah penduduk Kota Cirebon yang kini berada pada angka 200-an ribu jiwa, sekitar 25 ribu jiwa berasal dari kalangan Tionghoa. Pekerjaan mereka juga beraneka ragam, mulai dari perdagangan atau istilahnya tauke (pengusaha keturunan Cina) sampai menjadi anggota Legislatif di kota udang. Ini membuktikan peran warga Tionghoa sangat besar dalam upaya percepatan pembangunan di Cirebon. Geliat kehidupan perekonomian menjadi lebih hidup dan berkembang dari tahun ke tahun.

Begitupun dari sisi sosial dan bermasyarakat, hampir tidak ada “pemisah” antara warga pribumi dengan warga keturunan Tionghoa. Mereka dapat hidup rukun, saling membantu satu sama lain. Ini dapat terwujud karena sebagian warga Tionghoa sudah menganggap jika Cirebon menjadi tanah kehidupan mereka, karena di Cirebonlah mereka dapat merambah rejeki dengan bidang pekerjaan masing-masing.

Dan bicara mengenai komunitas orang Tionghoa di wilayah Cirebon, memang terdapat  beberapa perkumpulan. Diantaranya Inti (Indonesia Tionghoa), PSMTI (Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia), Suku Tiachu, Suku Okian, Suku Haka dan banyak lagi. Persatuan mereka memang cukup kuat untuk membantu sesama, terutama pada momen-momen tertentu diantaranya pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh, yang merupakan acara sakral yang melambangkan budaya kaum Tionghoa.

KAMPUNG CHINA

Khusus di Cirebon memang ada beberapa tempat yang selalu diidentikkan dengan perkampungan “warga Tionghoa”, diantaranya kampung Panjunan, Pesisir dan Kampung Cina di daerah Jamblang (masuk wilayah kabupaten Cirebon, Jawa Barat). Kalau ditanya sejak kapan mereka mulai berada di Cirebon dan menetapkan hingga kemudian menjadikan Cirebon sebagai tanah kehidupan mereka? Memang tidak ada keterangan pasti.

Yang mereka tahu bahwa hidup di sini (Cirebon) sudah sejak kakek nenek moyang mereka. “Saya dari bayi sudah berada di Cirebon, dan kakek nenek saya sejak dulu sudah berada di sini,” kata Ta Chi, warga keturunan Tionghoa yang kini berbaur kehidupan warga pribumi di Kompleks Perumahan Taman Kalijaga Permai, Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Kebersamaan secara sakral terlihat jelas saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh tiap tahunnya, seperti terlihat beberapa hari lalu di Kota Cirebon. Permainan naga dan barongsai mewarnai kemeriahan perayaan Cap Go Meh. Tidak hanya warga Tionghoa yang bergembira, bahkan warga pribumi pun larut dalam kegembiraan itu. Sejumlah ruas jalan protokol di kota udang itupun dipenuhi warga denhan cara berdiri di sisi-sisi jalan tersebut. Memang sih, tujuan mereka hanya ingin menyaksikan permainan naga dan barongsai, namun hakikatnya mereka dapat menikmati kebesaran budaya asal Tionghoa tersebut.

(darman/g)

Teks Gbr- Suasana perayaan Cap Go Meh beberapa waktu lalu di Kota Cirebon.(darman)