Tuesday, 13 November 2018

Hidung

Sabtu, 18 Februari 2012 — 12:41 WIB

  Oleh S Saiful Rahim
“ITU artinya dia disamakan dengan Pinokio,” jawab Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung  Mas Wargo.

Ketika tiba di pintu warung, Dul Karung mendengar orang-orang yang telah lebih dulu berada di sana ramai berbicara tentang Angelina Sondakh. Mendengar seseorang bertanya mengapa ada koran  menggambarkan mantan Putri Indonesia itu  berhidung bukan sekadar mancung tapi panjang, bak takut didahului orang lain Dul Karung pun menjawab sehingga dia masuk warung tanpa memberi salam terlebih dulu.

“Siapa dan orang mana Pinokio itu? Orang Jawa ya?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan logak Sunda yang kental.

“Anda dulu sekolah di mana? Kok tidak tahu Pinokio? Mentang-mentang namanya berakhiran o enak saja kauanggap Pinokio itu orang Jawa. Mas Wargo bisa marah, lho,” kata Dul Karung seraya menyambar sepotong singkong goreng.

“Pinokio itu tidak termasuk pelajaran sekolah, Dul. Jadi bila orang tidak tahu tentang Pinokio tidak ada sangkut pautnya dengan sekolahan,” sergah orang yang duduk tepat di sebelah kanan Dul Karung.

“Pinokio itu boneka kayu yang amat terkenal dalam dongeng. Setiap kali dia berbohong hidungnya tambah panjang. Orang yang tidak tahu tentang Pinokio berarti kurang mendalami kebudayaan,” jelas Dul Karung dengan pongahnya.

“Aku ini orang Sunda. Tetapi Gareng saja, boneka kayu yang ada dalam kesenian Sunda, aku tak tahu. Ada urusan apa aku harus tahu dan kenal Pinokio yang entah boneka kayu dari negeri mana?” jawab orang itu dengan emosi yang tak bisa disembunyikan.

“Sudah, sudah. Cukup Partai Demokrat saja diacak-acak. Jangan sampai kerukunan nasional di warung ini jadi rusak hanya karena ulah Angelina,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, setengah berkelakar.

“Menurutku, hidung Angelina digambarkan panjang bukan sekadar seperti hidung Pinokio yang memanjang setiap kali bohong, tapi juga ingin menunjukkan dia bisa mencium di mana ada duit yang bisa didapat sambil senyum. Tidak perlu berkeringat, apalagi bertarung nyawa seperti TKW,” sambung orang itu santai tapi mengundang senyum orang yang mendengar. ( syahsr@gmail.com )*