Wednesday, 17 October 2018

Liberalisme dan Kapitalisme

Senin, 20 Februari 2012 — 14:37 WIB

Oleh Harmoko

UNTUK kesekian kalinya penulis membahas mengenai maut di jalan raya dikaitkan dengan banyaknya kendaraan bermotor, baik roda empat, roda dua maupun volume jalan yang tidak bertambah. Sebagaimana kita ketahui bahwa tokoh pertama yang risau melihat keadaan lalu-lintas di Indonesia adalah Ir. Sutami, mantan Menteri PU di zaman Kabinet Ampera tahun 1970-an. Beliau adalah orang yang sangat memprihatinkan masa depan lalu-lintas.

Waktu itu Ir. Sutami bersikeras ingin membangun lalu-lintas Kereta Api untuk Jawa bagian utara dan bagian selatan serta lalu-lintas Kereta Api Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian (Papua). Karena Ir. Sutami menilai bahwa daripada membangun jalan biasa lebih baik membangun Jalan Kereta Api, lebih murah dan bisa mengangkut dari batu bara sampai hewan, dari manusia sampai produk masalnya. Tetapi gagasan Ir. Sutami kandas di tengah jalan karena adanya berbagai konflik kepentingan.

Coba misalnya pada waktu itu dilaksanakan kita tidak akan merasakan keadaan lalu-lintas yang carut-marut seperti sekarang. Masalah kemacetan, antrian yang panjang dan yang lebih mengerikan lagi kecelakaan maut yang ada di jalan-jalan, banyak generasi kita yang ”dibunuh” oleh carut-marutnya lalu-lintas di darat. Kecelakaan yang diakibatkan oleh Motor, Bus, Truk dan lain-lainnya senantiasa mengintai nyawa-nyawa warga Negara Indonesia berikutnya.

Sedangkan dewasa ini jalan-jalan yang dibangun pada masa lalu hampir rusak semua, apalagi jalan pantai utara (pantura) dan lain-lainnya. Itupun pemerintah sekarang kewalahan untuk merawat dan membangunnya. Sehingga yang terjadi adalah keruwetan dalam mengacu pada peraturan lalu-lintas.

Lebih-lebih jika BBM dinaikkan, maka akan berdampak pada perekonomian rakyat kita karena harga-harga pasti naik, demikian juga dampak lalu-lintas di mana keadaan itu tidak bisa dibendung lagi. Kerusuhan sosial makin terjadi, kriminalitas akan tinggi di mana pengangguran juga akan makin banyak dan di sanalah baru saat kita akan disetir oleh negara-negara maju, khususnya Amerika. Sebagaimana telah di praktekkan Amerika dan sekutu-sekutunya dalam merusak negara-negara penghasil minyak di negara-negara Arab. Itulah cara-cara yang dilakukan oleh liberalisme dan kapitalisme, untuk itu kita harus hati-hati dalam mengelola sistem negara dan perekonomian kita di mana diperlukan kearifan lokal dan kearifan nasional, dan hal itu akan didesak oleh waktu melalui kemajuan teknologi bidang komunikasi dan informasi.

Tanpa kita sadari Indonesia telah terjebak dalam permainan global. Dengan demikian akhirnya harus ditegakkan hukum untuk mewujudkan tegaknya keadilan, kebenaran dan kejujuran. *