Tuesday, 25 September 2018

Satu Lagi Korban Jembatan Runtuh Ditemukan Tewas

Senin, 20 Februari 2012 — 17:05 WIB
jembatan-runtuh

BOGOR (Pos Kota) – Pencarian tujuh korban jembatan ambruk di Sungai Cihedeung, Kecamatan Ciampea Senin siang membuahkan hasil. Satu korban ditemukan tewas di antara bebatuan di Kampung Pagutan, Kecamatan Rumpin. Enam korban lainnya yang semuanya masih bocah, masih dicari melibatkan 300 anggota Tim SAR gabungan.

Jenazah Septia Rizki alias Tia ditemukan tanpa busana sekitar 22 km dari lokasi ambruknya jembatan. Kematian bocah berusia 10 tahun Kelas V SDN Cibanteng seketika membuat kerabatnya menangis. “Dia anak baik. Kenapa dia dulu dipanggil Allah SWT,” ucap Ny. Uiyah, bibinya saat jenazah keponakanya dibawa ke RS Leuwiliang.

Menurut Ny. Uiyah, keponakannya tergolong anak pintar dan baik. Bocah berambuat sebahu ini adalah putri pasangan Linda Oktaviani dan Jamaludin warga Kampung Pabuaran Cibanteng, RT 04/RW 02. Belum lama ini ayahnya hanya pedagang sayuran membelikannya sepeda bekas. “Awal Februari lalu Tia rewel minta dibelikan sepeda lantaran teman-temanya sudah bisa naik sepeda,” katanya.

Rengekan sang bocah membuat ayahnya terpaksa membelikan sepeda seharga Rp 200 ribu. Padahal kala itu ayahnya tertimpa musibah setelah jatuh dari sepeda motor, “Meksi bekas, tapi Tia senang,” kenang Uiyah.Jenazah Tia dikebumikan Senin sore di pemakaman keluarga di Kampung Pabuaran.

Suasana duka menyeliuti rumah almarhumah Ummuh. Sang suami Aris hanya bisa pasrah dan berusa iklas kehilangan istri tercinta dan putri semata wayangnya yang hingga kini belum diketahui nasibnya. Selama sepuluh tahun membina rumah tangga bersama Ummamah, ia menempati rumah sederhana itu dengan ngontrak. Baru akhir 2011 lalu, sepetak rumah berukuran sekitar 8×10 meter itu akhirnya lunas dibayar.

“Saat kondisi ekonomi rumah tangga kami mulai membaik, Gusti Allah malah berkehendak lain,” ucapnya lirih. Dia saat ini hanya bisa berharap, Tuhan memberikan kuasanya agar sang buah hati segera ditemukan apapun kondisinya. “Kalaupun sudah meninggal, saya juga ikhlas menerima,” ucapnya. Memori akan buah hatinya itu masih melekat dalam benaknya. Bagaimana tidak, pagi sebelum berpamitan pergi ke acara maulid, ia sempat memakaikan jaket ke tubuh buahh atinya. “Pagi sebelum ia pergi itu, saya sempat makein jaket karena masih dingin,” tuturnya.

Hingga Senin petang, petugas tim SAR gabungan masih terus mencari enam korban dengan menyusuri Sungai Cihedeung yang bermuara ke Cidahu, Tangerang. Pencarian korban dilakukan di tiga titik, yakni di lokasi kejadian Kampung Pabuaran Kaum, Desa Cibanteng; Jembatan Ciampea, yang merupakan muara pertemuan Sungai Cihideung dengan Cisadane; dan di daerah Gerendong, Rumpin, sekitar 20 kilometer dari lokasi jembatan ambruk. “Selian itu kita buat lima posko, yakni Posko 1 di tempat kejadian, Posko 2 Jembatan Rancabungur, Posko 3 Jembatan Gerendong, Posko 4 di Karehkel Leuwiliang,” kata Ketua Tim Reaksi Cepat Badan Penangglangan Benaca Daerah Kabuapten Bogor Budi Aksomo.

Ke-6 korban itu semuanya warga Kampung Pabuaran, Desa Cibanteng. Mereka itu; Eka binti Eman,9 dan adiknya Rafi,5, warga RT.006/02, Ajay bin Angkos,9, RT/.04/02, Rafi bin Eman,5, Maesaroh bin Haris, putri semata wayang almarhumah Umman,39, yang ikut terseret sungai dan Minggu petang ditemukan meninggal. Kemudian Dini bin Junaidi,10, warga RT.006/02 dan Zhara bin Juli,6, warga RT.006/02.

“Warga Kampung Pabuaran kini berduka. Dua warga kami meninggal dan enam lainnya hilang terseret sungai menyusul ambruknya jembatan gantung itu,” ujar Mahdi, Ketua RT 01/03 Kampung Pabuaran.

Sejumlah tenda kini dipasang di rumah korban dan sanak famili serta kerabat berdatangan. Sejak Minggu malam mereka sudah melakukan tahlilan dan pengajian berharap enam warga yang hilang itu bisa cepat ditemukan. Sejumlah bantuan berupa sembako juga berdatagan dari sejumlah simpatisan termasuk dari Bupati Bogor Rahmat Yasin dan Ade Rohandi, Ketua DPRD Kabupaten Bogor.

Jembatan Cidua terbuat dari bambu dengan panjang 20 m dan lebar 1,5 m dibangun 1995. Jembatan gantung ini menghubungkan Kampung Pabuaran Kaum, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, dengan Kampung Babakan, Desa Babakan, Kecamatan Dramaga. Setiap tahun, warga selalu memperbaiki dan mengganti bambu-bambu yang sudah lapuk di jembatan tersebut. “Terakhir kali jembatan ini diperbaiki awal 2011, tapi 2012 ini belum juga diperbaiki,” ujar Mahdi, Ketua RT.001/03.

Camat Ciampea Djuanda mengakui, jembatan yang berada di belakang Kampus IPB ini dibangun warga secara swadaya. Namun, IPB sudah meminta kepada warga untuk membongkar jembatan tersebut dengan alasan keamanan kampus, karena banyak warga yang masuk ke areal universitas.

”Keinginan IPB tersebut sudah melalui lisan maupun teguran kepada kecamatan. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak karena itu semua keinginan warga,” ujarnya. (iwan/b)

  • Abdi nu Dhaif

    Terlalu banyak salah cetak, cukup mengganggu. Mudah-mudahan semua korban segera ditemukan. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan. Pemerintah? Mana tanggung-jawabnya atas banyaknya kasus jembatan runtuh?