Tuesday, 20 November 2018

Ramai-ramai Soraki

Selasa, 21 Februari 2012 — 11:15 WIB

Oleh H Sofjan Lubis

“SAYA dengar katanya DKI akan tinggikan trotoar di Jalan M. Ridwan Rais, tempat kecelakaan maut belum lama ini. Dibikin tingginya tiga puluh senti meter,” kata seorang kawan ketika kami duduk santai di sebuah kafe di bilangan Jalan Gajah Mada.

“Kan bagus, jadi sepeda motor enggak bisa masuk,” kata kawan lainnya.

“Betul, tapi kalau tinggi-tinggi, apa enggak bikin susah pejalan kaki.”

“Ya juga.”

“Saya enggak tahu persis, apakah ini sudah dikordinasikan dengan PU,” kata saya sambil ikut nimbrung. Dalam hati saya senang juga, mereka mau peduli trotoar ini. Apa karena sudah bosan dan muak dengan soal politik? Apa mereka sudah apatis, ya terserah mereka-mereka lah?

“Maksudnya gimana?” tanya mereka serempak.

“Ya, lihat saja. Kan jalan itu secara priodik dihotmix. Dengan dihotmix berarti tinggi jalan akan bertambah. Kalau tinggi jalan bertambah, ketinggian dengan trotoar akan berkurang,” kata saya.

“Betul juga. Terus bagaimana bagusnya?”

“Dipagar saja, termasuk di setiap mulut trotoar. Jadi sepeda motor enggak bisa masuk.”

“Atau begini saja,” kata seorang kawan sambil berdiri.

“Maksudnya apa?” tanya kawan yang lain.

“Setiap pejalan kali mulai berani menyoraki pengendara sepeda motor yang naik ke trotoar.”

“Boleh juga. Kan belum lama ini sudah ada beberapa orang yang demo menolak sepeda motor naik ke trotoar. Coba saja, barangkali ada yang mau memulainya.”

“Ya, tapi itu bisa mengajak orang berkelahi.  Baiknya dipagar saja dulu, nanti tahun 2020 kalau sudah terbiasa, baru kita ramai-ramai soraki kalau ada sepeda motor yang naik ke trotoar.”

“Kenapa tahun 2020?” kata kawan itu.

“Ya, supaya gampang saja ingatnya. Mudah-mudahanlah.”

Obrolan tadi barangkali bisa jadi masukan bagi Abang. Saya lihat juga beberapa pembatas jalan sering-sering diganti.  Terkadang bikinnya asal jadi. Belum lama, mulai ada ada yang copot. Atau sengaja dicopot karena memang gampang dicopot. Akibatnya sepeda motor bisa masuk. Atau barangkali memang itu sudah  jadi proyek. Tak tahu saya.

Pemprov DKI kiranya memang perlu mulai memperhatikan kenyamanan berjalan kaki di Jakarta. Di beberapa tempat sudah baik. Seperti di Jalan Thamrin, misalnya. Mudah-mudahan gubernur yang akan datang nantinya tak lupa. Kalau lupa? Ya kita lihat sajalah.

(lubis1209@gmail.com)