Friday, 21 September 2018

Tiga Korban Jembatan Ambruk Masih Dicari

Selasa, 21 Februari 2012 — 16:31 WIB
bruk212

BOGOR (Pos Kota) – Memasuki hari ketiga pencarian korban jembatan ambruk di Kampung Pabuaran Kaum, Desa Cibanteng, Kecematan Ciampea, Tim SAR kembali menemukan dua korban. Hingga Selasa petang sudah lima korban ditemukan dan kini tiga lainnya masih dalam pencarian.

Jenazah Zahra, bocah berusia enam tahun warga RT.006/02 ditemukan di sekitar jembatan. Saat ditemukan, kepala gadis berambut sebahu itu masih mengeluarkan darah segar dari luka akibat benturan batu di keningnya. Belum lagi luka lebam yang membiru di sekujur tubuhnya, ujar Ma’mun, Kepala Pengendalian Operasional Satkorlak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor.

Di hari pertama pencarian atau Minggu (19/2), jenazah Ny. Umamah, 39,ditemukan di sekitar jembatan ambruk. Pada Senin (20/2) pagi, jenazah Septia Rizky Alamsyah,7, ditemukan sekitar 20 Km dari lokasi ambruknya jembatan. Petangnya giliran jenazah Maesaroh atau Maya,10, putri almarhum Umamah, ditemukan sekitar 25 Km dari lokasi ambruk jembatan. Pada Selasa (21/2) mayat Dini,10, ditemukan secara tak sengaja oleh seorang warga yang hendak mandi.

“Dini merupakan putri Neneng, salah satu korban selamat. Ditemukan di kawasan Gunung Leutik, tidak jauh dari lokasi penemuan jenazah korban pertama, Umamah,” kata Ma’mun.
Berdasarkan pantauan, sejumlah anggota TNI dari Kesatuan Garuda 315, Gunungbatu, Bogor menyusuri tepi sungai yang dangkal dengan berjalan kaki. Sedangkan beberapa tim lain menggunakan perahu karet menyusuri sungai yang berarus deras tersebut. Dua unit helikopter milik Basarnas terus mengudara guna membantu pencarian tujuh korban hanyut.

Ketua TRC Kabupaten Bogor Budi Aksomo menambahkan, pencarian korban akan berlangsung selama satu minggu terhitung sejak ambruknya jembatan. Namun, jika selam seminggu itu belum juga ditemukan pihaknya akan menunggu kebijakan dari pimpinan pengendali operasi untuk tindakan selanjutnya. Upaya pencarian dilakukan secara manual, mengingat arus dan medan sungai yang cukup deras dan curam. Selain itu, di dalam sungai terdapat palung dan batu-batu.

Sementara isak tangis mewarnai pemakanan Maesaroh yang dikebumikan di sebelah almarhum ibunya Ummah yang Senin kemarin dimakamkan. “Sekarang saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi,” ujar Muhammad, ayahnya.

Lelaki berusia 50 tahun itu kini hidup sebatang kara. Wajar jika lelaki yang bekerja sebagai pedagang sayur ini terpukul, air mata terlihat terus keluar dan mengalir di pipinya. sebelum kejadian terjadi, Muhammad sebenarnya sudah melarang istri dan anaknya pergi untuk ikut acara Maulid Nabi Muhammad Saw di sekitar lingkungan kampus IPB. Pasalnya, ketika itu cuaca sedang hujan gerimis.

“Firasat saya sudah enggak enak aja, saya sudah larang, karena hujan tapi tetap berangkat,” ujar Muhammad lirih.

Setelah mendapat kabar mengenai istri dan anak tunggalnya menjadi korban titian ambruk ke sungai yang mengalir sangat derah, dan airnya keruh, diperoleh dari tetangga sekitar. Saat itu Muhammad sempat syok. “ Sekarang saya enggak tahu ke mana dan mau ngapain. Istri dan satu-satunya anak yang saya cintai sudah dipanggil Allah,” ucapnya. (iwan)

Tesk gambar; Jenazah Maesaro disalatkan di musala di Kampung Pabuaran Kaum sebelum dimakamkan. (iwan)