Wednesday, 21 November 2018

Lasmi Ketua UP2K Lestari

Dari Menjual Jamu, Anak Jadi Sarjana

Kamis, 23 Februari 2012 — 11:40 WIB
jm1

BERTEKAD untuk menggapai hidup yang lebih sejahtera ketimbang bertahan di kampung halaman, Lasmi,42, mantap hatinya untuk ‘banting setir’ di Ibukota. Beruntung ia sudah mempunyai pilihan usaha membuat jamu gendong siap saji. Walaupun usaha ini turun menurun dari orangtua.

“Saya mulai tinggal bersama orangtua di Jakarta tahun 1982 usai tamat SMP di Sukoharjo, Jawa Tengah,” ujar Lasmi yang menetap di RT 08/03 Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jaksel.

Lasmi bersaudara setiap harinya gigih membantu usaha orangtuanya untuk membuat sekaligus memasarkan jamu gendong. Di kalangan masyarakat, jamu gendong siap saji memang sudah tak asing lagi di lidah. Mulai bayi, anak-anak, remaja hingga para orangtua pasti pernah menikmati sajian jamu gendong.

Entah untuk sekedar menjaga kondisi kesehatan maupun mengobati sejumlah penyakit. Pastinya minuman tradisional khas negeri ini memang sudah begitu membudaya di kalangan masyarakat. Apalagi harganya juga sangat terjangkau kantong. Terutama yang paling banyak diminati jamu beras kencur, kunyit asam dan wedang jahe. Rasanya wahh uenak teenann…..

Bagi Lasmi, peluang usaha jamu gendong jika digeluti serius tetap
menjanjikan dan menghasilkan duit lumayan. Walaupun persaingan ketat menyusul makin banyaknya penjual jamu gendong lainnya.

JUARA SE-JAKSEL

Itu sebabnya semenjak menikah, ia tetap tekun berkeliling menjajakan jamu gendong siap saji buatannya sendiri. Usai meracik jamu yang dimulai Pkl:02.30, pagi harinya Lasmi bergegas menggendong bakul diisi 9 botol jamu siap saji seberat 15 kilogram.
“Jamu,,,,jamu,,,” begitu sapaannya kepada para pelanggan yang tersebar dari rumah ke rumah di RW 03 dan sekitarnya.
Modal untuk membuat jamu gendong berkisar Rp100 ribu per hari dan ia mampu meraih untung setengahnya. Keuntungan inilah yang ditabung dan sisanya untuk menambah modal usaha. Jamu botolan rata-rata dijual Rp15.000 untuk beras kencur dan Rp12.500 per botol untuk kunyit asam.

Setelah sekian tahun berusaha, Lasmi dan kawan-kawan sepakat membentuk usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) bernama Lestari pada 2009. Kelompok pelaksana (Pokpel) ini difasilitasi dari PKK Kelurahan Kuningan Barat selain modal dari masing-masing anggota yang berjumlah 30 orang.

Hal yang membanggakan, baru beberapa bulan UP2K Lestari dibentuk tapi pada tahun yang sama sudah mampu menjuarai lomba UP2K tingkat pemula se-Jakarta Selatan.

Menggawangi UP2K Lestari, usaha jamu para anggota kian maju. Contohnya saja Lasmi yang setiap bulannya meraih untung bersih Rp2 jutaan perbulan. Jumlah ini bakal melesat jika ada pesanan. Tak ayal ia makin getol berjualan jamu.

“Saya makin bersemangat jualan jamu siap saji. Selain membantu suami agar dapur tetap ngebul, juga tertantang untuk ikut melestarikan minuman khas tradisional kita,” katanya senang.

Hasil dari keuletannya ternyata tidak sia-sia. Selain memiliki rumah di Jakarta dan di Sukoharjo, ia juga berhasil menyekolahkan dua dari ketiga anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Meski ia hanya tamatan SMP. Anak sulungnya sudah sarjana (S1) dan kini bekerja di instansi pemerintah. Anak nomor dua sudah tamat dari SMK cyber media dan sudah bekerja.

Demi melanggengkan usaha jamu gendong agar tidak punah termakan jaman, Lasmi sejak sekarang sudah ancang-ancang meneruskan tongkat estafet kepada anak-anaknya. Kendati sudah bekerja, anak pertama dan kedua kini mulai mahir meracik jamu sekaligus menjualnya keliling kampung.

Tahun lalu anak nomor dua terpilih sebagai Duta Buyung Upik tingkat nasional di Keraton Solo dan anak sulungnya sebagai juara umum ratu jamu gendong.

(rachmi/g/soes)

Foto: Ketua dan anggota UP2K Lestari dengan produk unggulan jamu gendong. (Rachmi)