Friday, 16 November 2018

Laskar Jamu Gendong dari Kuningan Barat

Kamis, 23 Februari 2012 — 11:50 WIB
caper

PASUKAN PENJUAL
JAMU GENDONG
BENTUK UP2K ‘LESTARI’

HIDUP adalah perjuangan yang harus digeluti setiap insan sepanjang hayat dikandung badan. Siapa pun orangnya. Terlebih lagi di tengah beratnya irama hidup di Kota Jakarta ditandai dengan serba mahalnya kebutuhan hidup yang kian menjerat leher.

Walhasil jika tidak pintar-pintar ‘putar otak’ sudah pasti kehidupan menjadi terseok-seok dan bahkan bakal nyungsep.

Tak ingin bernasib malang di tengah ganasnya kota kosmopolitan ini, sekelompok penjual jamu gendong di RW 03 Kelurahan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan berinisiatif membentuk suatu kelompok kerja (Pokpel) agar lebih solid.

Beranggotakan sekitar 30-an pedagang jamu gendong setempat, mereka sepakat mendirikan usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) yang diberi nama Lestari. Nama Lestari dipilih agar usaha jamu rumahan yang merupakan usaha turun menurun ini bisa langgeng hingga ke anak cucu berikutnya.

“Ibarat pepatah bercerai kita runtuh, bersatu kita bakal teguh,” ujar Lasmi,42, yang dipercaya mengordinir UP2K Lestari saat disambangi di dapur kerjanya di RW 03 Kelurahan Kuningan Barat, Senin (20/2).

UP2K Lestari dibentuk pada tahun 2009.  Berawal dari keprihatinan para penjual jamu gendong akan nasib mereka yang tak kunjung membaik. Meski setiap harinya sejak dini hari sudah sibuk meramu jamu untuk dipasarkan sendiri berbekal bakul jamu di pundak.

Di sisi lain sebelum ada wadah melalui pokpel, diakui Lasmi, tak jarang ada kesan persaingan antara penjual jamu yang satu dengan yang lainnya. Meski pada dasarnya persaingan dalam bidang usaha apapun toh amatlah wajar. Namun tetap saja karena bermukim di satu kawasan, kesan miring itu dikhawatirkan bakal mengganggu kehidupan sosial maupun kerukunan antar warga yang selama ini sudah terjalin.

TOGA DI LAHAN KOSONG

“Kami termotivasi akan pentingnya kekompakan dan kepedulian bersama untuk bangkit dari keterpurukan demi menggapai taraf hidup yang lebih bermartabat,” kenang Lasmi yang diamini sejumlah pengurus dan anggota UP2K Lestari. Selain itu lanjut ibu tiga anak ini, sekitar 30-an penjual jamu gendong di RW 03 tersebut salut atas keberhasilan Ngatmi,60, penjual jamu gendong setempat yang mampu mencetak anak-anaknya menjadi sarjana dan bahkan ada yang jadi dokter.

Kesuksesan ini kian menjadi pemicu semangat bagi mereka untuk meningkatkan kualitas usaha yang ujung-ujungnya penghasilan bisa terdongkrak. Para penjual jamu gendong ini pun patungan dan terkumpul Rp500.000 ditambah pinjaman dari UP2K TP-PKK Kelurahan Kuningan Barat Rp500.000.

Menghemat biaya dalam membuat jamu gendong, pengurus dan anggota UP2K Lestari memanfaatkan lahan kosong milik satu pengembang kelas kakap dengan menanam tanaman obat keluarga (Toga). Sedikitnya ada 126 jenis tanaman di kebon toga yang sehari-harinya digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu gendong. Mulai sereh, temulawak, jahe, kunyit, kencur, lempuyang, kumis kucing dan lainnya.

Aktivitas penjualan jamu gendong dipasarkan full selama tujuh hari dalam seminggu dengan keliling kampung membawa bakul jamu. Semenjak aktif dalam UP2K Lestari, penjual jamu gendong ini kerap mendapatkan pelatihan atau ketrampilan dari berbagai instansi yang bertujuan meningkatkan mutu. Mereka juga dipacu untuk mampu mengembangkan inovasi produk agar bisa tampil beda dengan penjual jamu gendong lainnya.

PELANGGAN PEJABAT

Lasmi menjelaskan, produk jamu gendong siap saji Lestari diantaranya jamu beras kencur, jamu kunyit asam, jamu temulawak, jamu instan, wedang jahe dan wedang sereh.

Seiring berjalannya waktu, usaha jamu gendong ini semakin mendapatkan tempat tak hanya di hati warga RW 03 Kelurahan Kuningan Barat. Namun terus berkembang hingga ke kawasan Jaksel juga tingkat DKI Jakarta.

Kalangan pejabat juga menjadi pelanggan setia. Tak hanya itu, jamu gendong Lestari ini beberapa kali pernah diundang dalam acara di Istana Negara.

Keseriusan untuk maju juga diwujudkan pengurus dan anggota untuk aktif mengikuti serangkaian pameran dan bazaar hingga ke berbagai kota demi mendongkrak pemasaran.

Omset pokpel Lestari pada tahun 2010 mencapai Rp24 juta dari modal awal Rp1.000.000. Kerja keras bersama mulai membuahkan hasil ditandai dengan membaiknya taraf hidup para anggota. ‘Srikandi’ jamu gendong Lestari ini mampu mengikuti jejak Ngatmi mengantarkan anaknya hingga sarjana. Seperti anak sulung Lasmi yang sudah menjadi sarjana berkat usaha jamu gendong.

Pesanan jamu siap saji yang mulai banyak berdatangan membuat mobilitas penjualan juga tinggi. Menyiasati hal ini, sebagian penjual jamu gendong kini tak lagi menggendong bakul tapi sudah berganti sepeda.

Juga dilengkapi dengan gerobak motor untuk melayani pesanan dalam jumlah besar seperti dari instansi pemerintah hingga kalangan swasta. Selain jamu siap saji, UP2K Lestari kini juga membuat sejumlah varian jamu bubuk dalam kemasan yang mampu bertahan bulanan. Kendati berkelas usaha rumahan, produk ini sudah mengantongi sertifikat produksi industri rumah tangga (PIRT).

Terlepas dari itu semua, Lasmi mapun anggota lainnya kini berharap bantuan dari pemerintah khususnya Pemko Jaksel agar usaha mereka bisa terus berkembang. Selain bantuan permodalan, pemasaran juga tak kalah pentingnya bantuan dalam bidang produksi khususnya pengemasan supaya lebih menarik minat para calon konsumen. “Kami berharap semoga saja usaha jamu gendong ini bisa bertahan agar tidak tergusur produk minuman impor yang kini makin marak di pasaran,” pungkas Lasmi optimis.

(rachmi/g/soes)

Foto: Camat Mampang Prapatan, Ketua TP-PKK Kec. Mampang Prapatan, Lurah Kuningan Barat bersama anggota UP2K Lestari. (Rachmi)

  • eja

    Boleh saya tau nomor kontak UP2K Lestari, yang bisa dihubungi??? Saya butuh informasi untuk riset saya mengenai jamu. Mohon bantuannya. Terimakasih :)