Jumat, 24 Februari 2012 11:19:00 WIB

Modifikasi Mobil Untuk Odong-odong

Baja Naik, Harga Mobil Membuntuti

BISNIS odong-odang merupakan perpaduan antara kreatifitas di bidang otomotif dan usaha. Kegiatan ini lumayan menjanjikan. Ada odong-odong sepeda gowes tapi ada juga motor maupun mobil yang dimodifikasi total.

Tentu saja untuk odong-odong jenis sepeda gowes, modalnya lebih kecil. Untuk odong-odong jenis motor modifikasi mesin hampir tidak ada kecuali sistem pengegrak belakang yang diubah menjadi penggerak body yang ditempati penumpang. Demikian mobil, lebih banyak modifikasi di sisi bodynya. Secara umum fasilitas hiburan rakyat bawah ini tak jauh berbeda.

Untuk odong-odong sepeda lebih mengandalkan otot penggowesnya. Kapasitas angkutnya pun maksimal hanya empat sampai lima anak kecil. Ongkos per anak relaitif murah. Rata-rata Rp1000 per anak per lagu yang diputar. Penggowes sepeda akan bekerja memutar pedal sepedanya menggerakan miniatur mobil, motor, kereta, aneka binatang atau apapun yang dinaiki anak-anak. Saat satu lagu berhenti mengalun saat itulah penggowes odong-odong berhenti.

Untuk odong-odong motor dan mobil secara operasioanl sama dengan berputar-putar pada jarak tertentu. Umumnya odong-odong ini beroperasi di sekitar perkampungan. rata-rata perjalanan berkisar 10 menit sekali jalan. Tidak hanya anak-anak, odong-odong motor dan mobil ini bisa dinaiki juga orang tua. Untuk anak-anak biasanya Rp2000 per orang atau Rp3000 untuk dewasa. Sekali angkut odong-odong motor yang sudah dimodifikasi bisa mengangkut antara 10-15 orang. Sedangkan mobil bisa mencapai 30 orang.

NEKAD
Dudi, pemilik odong-odong mobil di kawasan Cimanggis mengaku membeli mobil PU Kijang bekas Rp21 juta. Lalu mobil itu dirombak total dengan penambahan panjang body mencapai 60 cm. Mobil dibuat dengan miniatur menyerupai kereta api. Lalu dicat warna-warni dan ditambah sound system. Dengan perombakan ini kapasitas angkutnya mencapai 30an orang. “Awalnya nekad, karena nggak ada acuan, cuma lihat orang aja,” kata Dudi.

Untuk merombak kijang tua itu total biaya yang dihabiskan termasuk membereskan mesin dan kaki-kakinya mencapai Rp40an juta. Kini Dudi tinggal menikmati setoran dari odong-odongnya yang rata-rata mendapat Rp300 per sehari.
Kini dia juga sedang membangun Daihatsu Zebra tahun 1997. Dia mentargetkan biaya yang akan dihabiskan untuk odong-odong keduanya juga Rp40 jutaan. “Tapi mungkin bodynya lebih kecil tapi saya kira tidak kalah menarik,” jelasnya.

Diakuinya, pendapatan Rp300 sehari itu pendapatan rata-rata saja. Bisa lebih besar lagi kalau pas musim liburan atau hari libur. “Tetapi kalau hari-hari biasa maksimal Rp300 ribu, karena memang jam operasinya terbatas,” jelasnya.

Fai, penarik odong-odong sepeda di kawasan Ciracas, Jakarta Timur mengaku setiap hari harus setoran kepada juragan pemilik odong-odong Rp20 ribu per hari. “Itu semua sudah siap termasuk tipe dan akinya, kita tinggal jalan,” katanya. “Ya, ketutup juga seh, terutama kalau hari libur. Tapi kalau hari biasa agak sepi.”

(untung)

 

Foto -  Istimewa

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.