Minggu, 26 Februari 2012 00:50:52 WIB

Penari Striptease Semakin Berani

iluspenaristeraptease

JAKARTA (Pos Kota)-Tempat hiburan malam di Jakarta makin berani menyajikan hiburan berunsur pornoaksi untuk menarik tamu pria hidung belang. Sajian striptease alias tari telanjang dengan sangat terbuka dipertontonkan di atas panggung yang disaksikan ratusan pengunjung. Lebih gilanya lagi, sejumlah penari nekat melepas BH ataupun celana dalam lalu dilemparkan ke arah tamu dengan tujuan mendapatkan uang tips.

Penyelenggaraan tari telanjang kini semakin nekat karena lemahnya pengawasan dari aparat keamanan maupun instansi terkait . Bahkan diduga kuat sengaja dibekingi oknum aparat untuk mendapatkan uang setoran.

Dulunya, sajian seperti ini dikemas dalam kedok tarian seksi alias sexy dancing, namun sekarang sajiannya sudah benar-benar telanjang bulat yang mana si penari tak mengenakan selembar kain pun. Lebih gilanya lagi, penari yang umumnya berusia dari ABG sampai di bawah 25 tahun.

Berhubung tempat semacam ini sering dijadikan sapi perahan bagi oknum petugas, tak pelak lagi, pengelola tempat hiburan malam semakin nekat menyajikan tarian bugil yang memang disukai pengunjung yang didominasi kaum pria. “Kini, tempat hiburan malam seperti diskotek, karaoke, singing hall, klab malam, maupun bar banyak nyambil menyajikan penari bugil yang minimal dibawakan dua sampai puluhan wanita bertubuh seksi,” kata Farhrozi, salah satu manajer tempat hiburan malam kawasan Kota Tua, Jakbar, kemarin.

Pertunjukan tari bugil bukan cuma didominasi tempat hiburan kelas atas, tetapi sudah merambah ke tempat hiburan kelas bawah yang banyak ditemukan di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat. Untuk tempat hiburan kelas bawah biasanya cuma menyajikan pada hari tertentu umumnya sekitra week end pada Jumat dan Sabtu malam.

Sedangkan tempat hiburan kelas atas sekelaseksekutif klab justru menampilkan tarian tiap malam secara nonstop.

LEMPAR BH

Mesumnya pertunjukan tarian bugil, bisa dengan mudah dilihat di banyak tempat hiburan malam di kawasan Mangga Besar, Pangeran Jayakarta, Pluit, Kelapa Gading, Blok M, dan lainnya. Salah satu contoh pertunjukan tarian bugil di tempat hiburan malam di kawasan Pecenongan, berlangsung di tempat terbuka yang berkapasitas tempat duduk lebih dari 500 orang. Di ruangan besar ini terdapat tiga panggung. Terlihat belasan wanita muda bertelanjang bulat menari seksi di atas panggung, sebagian di antaranya mendatangi meja tamu sambil merayu a pria yang umumnya sedang mabuk minuman.

“Tips dong, Om. Kalau Om ngasih tips, Om boleh pegang yang mana saja,” rayu si penari sambil bergoyang seksi.

Banyak pria yang dengan mudahnya memberikan uang tips dengan cara membeli satu loki minuman seharga Rp 25 ribu atau Rp 50 ribu diberikan kepada si penari. Terkadang ada penari yang nakal, misalnya disuruh mengambil satu loki, tapi ternyata sampai empat loki, sehingga si tamu harus bayar lebih banyak lagi, meski cuma memegang tubuhnya beberapa detik saja.

Di tempat lain bahkan ada cara untuk menarik tamu yaitu si penari melemparkan BH atau celana dalam miliknya ke arah tamu yang dituju. Kemudian ia menghampiri lelaki tersebut sambil minta uang tips, minimal Rp 50 ribu sampai ratusan ribu rupiah.

THREE SOME
Pengelola tempat hiburan malam yang menyelenggarakan tarian bugil, juga menyediakan puluhan sampai ratusan wanita penghibur yang dipajang di etalase maupun di sebelah panggung. Peranan penari bugil ini umumnya untuk merangsang nafsu a pria sehingga akhirnya mereka mencari wanita penghibur untuk memuaskan nafsunya. Namun penari itu sendiri juga bisa dibooking dengan harga lebih tinggi dari wanita penghibur.

“Tarif pijat plus-plus di sini, murah, Om, cuma Rp 280 ribu, dijamin puas. Anak-anak di sini cantik-cantik dan muda-muda, Om pasti senang deh,” rayu germo Mami Siska kepada pengunjung.

“Kalau mau paket three some lebih murah lagi, dua cewek cuma Rp 400 ribu,” tambahnya. Yang dimaksud three some adalah dua wanita penghibur melayani satu pria, bukan dua wanita melayani dua pria.

Makin maraknya pertunjukan striptease membuat prihatin banyak pihak. “Ini menunjukkan kelemahan aparat dalam penegakan hukum di dunia hiburan malam. Pelaku kejahatan susila bukannya ditindak tegas, tapi malah dipelihara dijadikan sapi perahan,” kata Azas Tigor Nainggolan, Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta). Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka proses perusakan moral makin parah.

Tigor mendesak agar aparat penegak hukum dari Polda Metro Jaya maupun Pemprov DKI Jakarta bangkit memerangi maksiat. “Galakkan razia di tempat hiburan malam, agar penyelenggaraannya tidak melanggar aturan. Saya sangat setuju kalau izin usahanya dicabut jika terbukti menyajikan tarian telanjang,” kata Tigor.

Namun sejauh ini Tigor merasa pesimis bahwa aparat bisa bertindak tegas. “Karena selama ini tidak ada satu tempat hiburan malam yang dicabut izi usahanya. Padahal pelanggaran seperti tari bugil sangat marak di mana-mana, apalagi di kawasan Mangga Besar hampir tiap tempat hiburan menyajikan striptease,” tandas Tigor. (joko/b)

Baca Juga

© "Poskota", "Poskota Online" adalah merk dagang milik PT. Media Antarkota Jaya. Poskota diterbitkan oleh PT.Media Antarkota Jaya sejak 15 April 1970 di Jakarta. Izin Usaha: SIUPP No. 0088/SK/Menpen/SIUPP A/7 1986 13 Maret 1986.