Saturday, 17 November 2018

Atasi Macet Jakarta Perlu Komitmen Pemkot Penyangga

Selasa, 28 Februari 2012 — 0:20 WIB
ilus atasi

JAKARTA (Pos Kota) – Perlu komitmen yang jelas dari pemerintah daerah untuk mengatasi kemacetan di Ibu Kota Jakarta dan kota-kota penyangga di sekitarnya.

“Perencanaan tata ruang, infrastruktur dan transportasi harus terintegrasi,” kata Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimoeso saat dihubungi kemarin.

“Saat ini perencanaan berjalan sendiri-sendiri. Pengembangan kota buruk sehingga menyebabkan masyarakat memilih kendaraan pribadi.”

Dia juga menyebut trayek angkutan umum yang dikeluarkan Pemda kerap kali tumpang tindih. Akibatnya menimbulkan kemacetan dan ketidaksipilinan berlalulintas karena sopir saling berlomba mengejar setoran.

Karena itu, ia mengimbau agar kota-kota penyangga Botabek lebih mengedepankan program transportasi massal. Kebijakan penyediaan transportasi publik harus diubah dari sekadar mencari keuntungan menjadi memberi pelayanan maksimal. “Selama ini transportasi dipahami sebatas mengangkut massa. Padahal, dalam transportasi, ada unsur-unsur keamanan, kenyamanan, keselamatan dan kemacetan.”

RUGI TRILIUNAN

Disebutkan, transportasi merupakan urat nadi perekonomian. Akibatnya kemacetan kerugian per tahunnya mencapai Rp43 triliun, belum lagi beban kerugian di kota penyanggah wilayah Botabek.

Angka itu dihitung dari pemborosan BBM, waktu kerja, kesehatan dan subsidi BBM. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) oleh kendaraan pribadi dan sepeda motor mencapai 47 persen dari total konsumsi BBM untuk transportasi massal. Adapun untuk mobil dan bus umum hanya 41 persen. “Itu menunjukkan transportasi umum kurang dapat mengakomodasi masyarakat.”

Mudahnya memperoleh kredit roda dua tanpa uang muka dan jaminan juga jadi sebab sepeda motor jadi pemicu kemacetan kian parah. Angkutan umum ditinggalkan, kendaraan pribadi dan sepeda motor menjadi raja di jalan.

“Kemacetan tidak lagi mengenal waktu sibuk (peak hour) tapi terjadi sepanjang waktu, tidak hanya di jalan utama tapi juga dijalan-jalan alternative bahkan atau jalan tikus,” ungkap Suroyo.

Sebenarnya banyak cara yang dapat ditiru dari pengalaman negara lain dalam mengembangkan angkutan masal. Salah satunya adalah konsep busway yang sukses dikembangkan di kota Jakarta. (dwi/b)