Thursday, 20 September 2018

Kekerasan

Sabtu, 3 Maret 2012 — 11:56 WIB

 Oleh S Saiful Rahim
“TIDAK semua orng tidak menyukai kekerasan,” kata Dul Karung sambil senyum seraya masuk ke warung kopi Mas Wargo. Kali ini kehadirannya tanpa didahului kata assalamu ‘alaykum sebagaimana biasanya.

Mendengar apa yang dikatakan Dul Karung hampir semua orang yang ada di warung mengalihkan pandangan kepadanya. Obrolan simpang siur tentang aksi kekerasan yang semula riuh pun jadi senyap. Tapi Dul Karung menanggapinya dengan senyum.

“Rasanya semua lapisan masyarakat sudah menyatakan sikap terhadap aksi kekerasan yang marak akhir-akhir ini. Baik yang dilakukan ormas, dan terutama yang dilakukan oleh para preman. Semua menyatakan ketidaksenangan mereka. Bahkan ada yang sampai menginginkan Petrus alias Penembak Misterius yang pernah ada di masa Orde Baru dimunculkan kembali. Jadi siapa yang kau maksud dengan orang yang menyukai kekerasan?” tanya seseorang yang duduk di ujung kiri bangku panjang dengan nada geram.

“Biasanya para istri lebih senang yang keras daripada yang letoy,” kata Dul Karung sambil nyengir seperti kera habis mencium terasi.

Semua orang yang mendengar ucapan Dul Karung pun berteriak, “Huuu!” dengan geram. Bahkan ada di antara mereka yang meneriakkan kata, “Edan!” dengan keras dan jengkel. Dul Karung yang semula ingin bergurau jadi rikuh.

“Sekarang kekerasan bukan hanya marak di Ibukota tapi Yogya pun sudah kena rembesannya. Tak kurang, Sri Sultan sendiri merasa terusik. Selain meminta polisi bertindak tegas terhadap aksi kekerasan, beliau pun menegaskan bahwa kekerasan bukanlah karakter Yogya. Kata beliau, masyarakat Yogya itu santun, selalu berdialog. Bukan masyarakat yang mau menang sendiri,” sela Mas Wargo, mencoba meredam kejengkelan beberapa hadirin terhadap kelakar Dul Karung.

“Aku setuju polisi harus bertindak tegas terhadap premansime dan pelaku aksi kekerasan. Militer pun harus ambil peduli, setidak-tidaknya untuk menjawab bahwa tidak benar para preman itu punya beking. Masyarakat pun harus bahu membahu melawan setiap aksi kekerasan dan premanisme. Tapi aku tidak setuju main petrus-petrusan seperti di masa Orde Baru dulu.

Bagaimana pun aksi-aksi petrus itu melanggar hak asasi manusia. Kalau itu yang dilakukan, apa bedanya kita dengan para preman dan pelaku kekerasan itu?” kata Dul Karung berapi-api. Entah bagaimana pikiran dan pandangannya bisa menjadi bukan lagi pikiran dan pandangan orang-orang kelas warung kopi kakilima.

“Dan polisi jangan menurunkan derajat sendiri. Setelah sukses menangkap preman berkelas, janganlah hanya menjadi pemburu orang yang asal bertato,” kata Dul Karung lagi sambil meninggalkan warung sebelum ada yang menanggapi ucapannya.

( syahsr@gmail.com )*