Saturday, 17 November 2018

Menarik Senjata Api

Sabtu, 10 Maret 2012 — 9:53 WIB

GAYA hidup ala Amerika Serikat mewabah di mana-mana. Potensi individu diberi peluang habis-habisan untuk meraih impian tanpa batas. Implikasi negatifnya menghantui banyak orang. Pembunuh bayaran bagioan dari implikasi itu kini  dikabarkan sudah berani mengiklankan jasanya melalui media massa.

Warga Kota Bandung, Jabar dan Banjarmasin, Kalsel,  geger lantaran tawaran iklan membunuh khusus bagi  peminat pada  dua kota tersebut.  Pelaku mengaku sudah profesional sehingga tembakan senjata tak pernah meleset dari targetnya.

Cara membunuh disesuikan dengan order pemesan.  Sampai sejauh ini tidak disebut nilai tarifnya dengan alasan tergantung tingkat kesulitan serta status calon korbannya. Hanya saja, jika dibandingkan dengan biaya penculikan, tarif membunuh lebih redah.

Seberapa  jauh kebenaran pesan  iklan tersebut, masih perlu diuji. Tunggu saja hasil kerja polisi yang kemarin berhasil membekuk pengelola  situs media internet terkait.

Pada tahap ini, kita layak  mengapresiasi polisi karena telah menunjukkan keberadaannya tepat waktu. Publik tidak kelamaan didera kecemasan.

Fenomena pembunuh bayaran di negara kita muncul seiring dengan masuknya gelombang liberalisasi mendompleng gerakan reformasi. Kasus pembunuhan Bos PT Asaba pada tahun 2003 adalah cerita duka di balik praktek pembunuh bayaran berupah Rp4 juta.

Begitu pula kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, pada tahun 2009 melibatkan Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi,  adalah buntut dari transaksi membunuh senilai Rp400 juta.

Dua kasus tersebut menjadi sumber kepercayaan publik tentang keberadaan pembunuh bayaran di tengah kehidupan kita. Lebih mengerikan dari itu jika pembunuh  melibatkan oknum militer,  anggota polisi  bangor atau sindikat sipil bersenjata api.

Menghadapi mereka,  kita menghendaki agar setiap detak jantung polisi mampu mengalirkan rasa aman bagi individu maupun kelompok. Mumpung belum merajalela, hendaknya polisi tidak memberi ruang dan gerak sedikit pun terhadap pembunuh bayaran.
Senjata api  tidak layak berada di tangan warga sipil.

Sayang, proses penarikannya belum juga tuntas. Sipil yang pernah diizinkan memiliki senjata api serupa di Amerika, menurut hemat kita, menjadi sumber maraknya kejahatan menelan korban jiwa.

Sebagai antisipas, sudah saatnya polisi konsisten melarang warga sipil memiliki,  menguasai atau menggunakan  senjata api. Upaya penarikannya harus segera dituntaskan.***