Friday, 21 September 2018

Kronologis Oom Mau Melahirkan Ditolak Rumah Sakit

Minggu, 11 Maret 2012 — 0:54 WIB
lahir103

BOGOR (Pos Kota) – Nasib orang miskin semakin terpinggirkan saja. Hanya gara-gara tidak ada uang untuk biaya berobat sebesar Rp6,5 juta, seorang ibu hamil ditolak di lima rumah sakit di Bogor. Akibatnya, ketuban sang ibu pecah di angkot. Beruntung, nyawa korban diselamatkan dokter yang iba.

Anggota DPRD Kota Bogor bereaksi keras atas tindakan tidak manusiawi ini. Sedangkan pihak rumah sakit berkilah bahwa tidak ada penolakan. Yang ada hanya kekurangan kamar lantaran seluruh kamar sudah terisi pasien yang lain.
Peristiwa menyayat hati ini menimpa Ny. Oom bin Romlah, 35, warga Kampung Ciheuleut RT 02/06 Kelurahan Tegallega Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Sabtu (10/3) dinihari.

UANG DEPOSITO
Informasi yang dihimpun, Jumat (9/3) malam, Ny. Oom yang hamil anak keduanya, mengalami mulas, tanda akan melahirkan. Suami dan keluarga pun sibuk. Mereka menyewa angkot membawa Ny. Oom ke rumah sakit untuk proses persalinan.

Angkutan umum penuh keluarga itu mendatangi Puskesmas Bogor Tengah. Perawat mengatakan tidak punya alat yang memadai. Mereka disarankan ke rumah sakit lain.

Angkot meluncur ke RS Bogor Medical Center (BMC) di Jalan Pajajaran Indah. Di rumah sakit, keluarga diminta menyediakan uang sebesar Rp6,5 juta sebagai deposito. Mendengar jumlah uang tersebut, keluarga miskin ini terperangah.

Karena tidak memiliki uang sebesar itu, mereka jalan lagi naik angkot menuju RS Family Medical Center (FMC) di Jalan Raya Bogor – Jakarta. Namun oleh resepsionis, keluarga mendapat jawaban bahwa tidak ada tempat untuk bersalin.

Sambil menahan mules di perut, Oom dibawa ke RS PMI Bogor. Untuk kesekian kalinya, alasan anggaran dan kamar penuh, menjadi dasar rumah sakit menolak korban. Di RS PMI Bogor, Ny. Oom hanya diberi obat penenang untuk menurunkan tensi darahnya yang meninggi.
Menjelang tengah malam, keluarga berniat membawa Oom ke RS Islam Bogor. Dalam perjalanan, ketuban korban pecah. Rasa sakit tidak tertahankan mulai dialami korban. Mereka hanya pasrah sambil menghibur Oom yang kesakitan.

DITOLONG DOKTER

Di tengah kepanikan keluarga, sekitar pukul 02.30, angkot menerobos masuk halaman pakir Rumah Bersalin ‘Nuraida’ di Jalan Bangbarung, Kecamatan Tegal Gundil, Bogor Utara. Sang suami membopong tubuh istrinya yang merintih kesakitan. Pintu rumah sakit bersalin digedor.

Perawat iba melihat kondisi Ny. Oom. Ibu rumahtangga itu dibawa masuk ke ruang perawatan. Dokter Lukman, yang bertugas jaga, segera mengambil tindakan. Bersama beberapa perawat, dokter warga Jakarta ini, berjuang menyelamatkan nyawa Ny. Oom.

Sekitar pukul 08.00, Ny. Oom melahirkan bayi lelaki. Bayi mungil rambut agak panjang ikal dan belum diberi nama, lahir dengan berat badan 2,9 Kg dan panjang 48 Cm. Sukacita keluarga ini semakin lengkap, karena dokter Lukman tidak membicarakan biaya pertolongan medisnya alias gratis.

Nyonya AH Hasan, ibu kandung Ny. Oon mengatakan, saat berkali-kali ditolak pihak rumah sakit, ia dan keluarga sudah putus asa. “Saya hanya butuh bantuan medis saja, karena yang mau diselamatkan dua nyawa. Tapi apa daya, kami ini dari keluarga miskin, “ katanya.

“ Saya tidak menuntut dan juga tidak dendam. Beruntung anak saya ditolong dokter Lukman yang dermawan,” kata Ny. Hasan, dijumpai di Rumah Bersalin Nuraida.
Menurut AH Hasan, sejak awal persalinan, dokter Lukman tidak tanya soal pembayaran. “Saya doakan semoga dokter Lukman mendapat berkah dari Allah SWT,” ujar Ny. Hasan.

TAK ADA ALAT

Syafnidar, bidan di Puskesmas Bogor Tengah, tempat pertama kali korban minta pertolongan, menjelaskan, ia merujuk Oom ke rumah sakit lain karena di puskesmas tidak memiliki alat yang lengkap.

Saat dikonfirmasi, Humas RSU PMI Bogor, Yuda Waspada, mengakui benar korban datang ke rumah sakit. Namun kamar penuh. Pihaknya memberikan layanan berupa pemberian obat untuk menurunkan tensi darah serta pemberian oksigen dan terapi.

“Karena saat di IGD ketuban belum pecah, maka kami rujuk ke rumah sakit lain. Soalnya kamar memang penuh,” tegas Yuda.

Penolakan rumah sakit terhadap ibu yang hendak melahirkan, membuat anggota DPRD Kota Bogor berang. Untung Maryono SE, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, mengecam perlakukan diskriminasi. Politisi PDIP ini mengancam memanggil semua rumah sakit yang melakukan penolakan atas Oom yang membutuhkan pertolongan.

“Tega benar mereka, sampai ketuban pecah di angkot karena ditolak rumah sakit. Alasan kamar penuh dan biaya tidak bisa di benarkan. Antara Pemkot, DPRD dan semua rumah sakit, sudah ada MoU, di mana isinya menerima pasien kurang mampu, karena anggaran sudah tersedia,” papar Untung. (yopi/st/r)

Teks :Ny. Oom ditolak di lima rumah sakit saat mau melahirkan. (yopi)

  • mas susi

    Saya doakan semoga dokter Lukman mendapat berkah dari Allah SWT,”

  • Supriyono04

    jarang orang yg mau menolong tanpa pamrih karena sdh mementingkan diri sendiri. walaupun berhubungan dgn nyawa manusia. semoga dr Lukman diberi keberkahan…

  • Nina

    Jika boleh tahu Dr. Lukman ini di rumah sakit mana, dan alamatnya dimana, jika ada no HP-nya lebih baik. Saya akan coba laporkan ke Menteri Kesehatan. Semoga ALLAH memberkati orang-orang seperti ini. Dikala banyak manusia mementingkan diri sendiri dan uang menjadi sila pertama, Dr. Lukman ibarat mutiara di padang pasir.

  • http://www.facebook.com/sofrin.toling Sofrin Jaren Toling

    kenapa tidak di antar ke cikeas aja…….. biar dia tau bahwa rakyatnya menderita…